Tuesday, March 27, 2012


                                               


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Akar pada tanaman akan menyerap air dan mineral untuk digunakan oleh tanaman itu sendiri. Dari air yang diabsorbsi oleh akar tumbuhan, hanya kurang dari satu persen yang digunakan dalam reaksi metabolisme. Sebagian besar air yang diabsorbsi olek akar hilang karena proses transpirasi pada daun. Transpirasi air oleh tumbuhan dibagi dengan produksi berat kering selama pertumbuhan disebut rasio transpirasi.
Besarnya rasio transpirasi menunjukkan efisien penggunaan air oleh tumbuhan, jika rasio besar berarti tumbuhan tidak efisien dalam menggunakan air. Rasio transpirasi pada kebanyakan berkisar antara 200 sampai 500 lebih, berarti 200 sampai 500g air digunakan oleh 1 g berat kering tumbuhan sampai tumbuhan dewasa. Tumbuhan yang tinggi yang hidup di darat sangat tidak efisien dalam menggunakan air. Tumbuhan golongan C4 menghasilakan berat kering 2-3 kali lebih besar per satuan air yang digunakan disbanding tumbuhan golongan C3 yang berarti C4 lebih efisien dalam menggunakan air daripada C3.
Transpirasi menyebabkan terjadinya kehilangan air. Kehilangan air transpirasi terjadi diseluruh bagian tumbuhan yang langsung bersentuhan dengan atmosfir luar, terutama adalah dari daun dan hamper seluruh transpirasi terjadi melalui pori-pori stomata. Kutikula hanya melepaskan sejumlah uap air air, karena kutikula dari banyak macam daun sangat tidak permiabel terhadap air.
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh factor lingkungan terhadap laju transpirasi, maka diadakanlah suatu praktikum dengan menggunakan tanaman Acalipha sp.




B.     Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari pengaruh faktor-faktor lingkungan yaitu jumlah daun, sirkulasi udara, cahaya, dan jumlah stomata terhadap laju transpirasi.
C.    Manfaat
Manfaat yang  diperoleh dari praktikum ini yaitu dapat mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat berpengaruh terhadap laju transpirasi suatu tanaman serta bagaimana pengaruh faktor tersebut terhadap transpirasi.


























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kehilangan air karena transpirasi terjadi di seluruh bagian tumbuhan yang langsung bersentuhan dengan atmosfer luar. Tetapi yang utama adalah dari daun dan hampir seluruh transpirasi terjadi melalui pori-pori stomata. Kutikula hany melepaskan sejumlah kecil uap air, karena kuitkula dari banyak macam daun sangat tidak permeabel terhadap air. Laju kehilangan air suatu tumbuhan bergantung pada keadaan PA antara atmosfer dan di dalam sel. Jika ruang antar sel dalam daun jenuh dengan uap air, maka laju kehilangan uap air akan ditentukan oleh kelembaban nisbi udara di atmosfer. Setiap keadaan lingkungan yang menyebabkan perubahan besarnya perbedaan PA antara sel daun dan udara luar dapat menyebabkan perubahan laju transpirasi (Ismail, 2011). 
Dalam aktivitas hidupnya, sejumlah besar air dikeluarkan oleh tumbuhan dalam bentuk uap air ke atmosfer. Pengeluaran air oleh tumbuhan dalam bentuk uap ini, prosesnya disebut transpirasi. Banyaknya ir yang ditranspirasikan oleh tumbuhan merupakan kejadian yang khas, meskipun perbedaan terjadi antara satu spesies dengan spesies lainnya. Transpirasi dilakukan oleh tumbuhan melalui stomata, kutikula dan lentisel. Berdasarkan atas sarana yang digunakan untuk melaksanakan transpirasi tersebut dikenal istilah transpirasi stomata, transpirasi kutikula dan trasnpirasi lentisel. Transpirasi pentiing bagi tumbuhan karena berperan dalam hal membantu meningkatkan laju angkutan air dan garam mineral, mengatur suhu tubuh dengan cara melepaskan kelebihan panas dari tubuh, dan mengatur urgor optimum di dalam sel (Sasmitamihardja, 1996).
Transpirasidimulaidenganpenguapan air olehsel-selmesofilkeronggaantarsel yang adadalamdaun (air space).Penguapan air kerongga antar sel akan terus berlangsung selama rongga antar sel belum jenuh dengan uap air. Sel-sel yang menguapkan airnya ke rongga antar sel akan mengalami kekurangan air sehingga PAnya menurun. Kekurangan ini akan diisi oleh air yang berasal dari xilem tulang daun, yang selanjutnya tulang daun akan menerima air dari batang dan batang menerima dari akar dan seterusnya. Uap air yang terkumpul dalam rongga antar sel akan tetap berada dalam rongga antar sel tersebut selama stomata pada epidermis daun tidak membuka. Kalaupun ada air yang keluar menembus epidermis dan kutikula jumlahnya hanya sedikit dan dapat diabaikan (Ismail, 2006).
Selain menyediakan air bagi daun, aliran transpirasi juga membantu memindahkan mineral dan bahan-bahan lain dari akar ke tunas dan daun. Transpirasi juga menghasilkan pendinginan evoratif, yang dapat menurunkan suhu daun 10 -15 derajat lebih rendah dari pada udara disekitarnya. Ini mencegah daun mencapai temperatur-temperatur yang dapat menghambat enzim-enzim yang mengkatalisis reaksi fotosintetik, juga enzim lainnya yang terlibat dalam proses metabolisme daun. Tumbuhan sukulen gurun, yang memiliki laju transpirasi rendah, tahan terhadap suhu daun yang tinggi, dalam kasus ini kehilangan air akibat transpirasi adalah ancaman yang lebih besar dibandingkan dengan pemanasan yang berlebihan (Campbell, 2002).
Sebagianbesar transpirasi terjadi melalui stomata karena kutikula secara relatif tidak tembus air,dan hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabila stomata tertutup. Dengan terbukanya stomata lebih lebar,lebih banyak pula kehilangan air, tetapi peningkatan kehilangan air ini lebih sedikit untuk masing-masing satuan penambahan stomata. Banyak faktor mempengaruhi pembukaan dan penutupan stomata,yang paling utama dalam kondisi lapangan ialah tingkat cahayadan kelembapan. Pada sebagian besar tanaman budidaya  cahaya menyebabkan stomata terbuka. Pada tingkat kelembapan didalam daun yang rendah sel-sel pengawal kehilangan turgornya, menagkibatkan penutupan stomata. Banyak tanaman mempunyai mekanisme dalam daun yang menguntungkan pengurangan transpirasi apabila persediaan air terbatas(Salisbury, 1992).
Kegiatan transpirasi terpengaruh oleh banyak faktor, baik faktor dalam  maupun faktor luar. Faktor dalam misalnya besar kecilnya daun, ketebalan daun, adanya lapisan lilin, adanya bulu di permukaan daun, jumlah, bentuk dan lokasi stomata. Faktor luar yang brepngaruh yaitu sinar matahari, temperatur, kelembaban udara, angin dan keadaan air di dalam tanah. Trasnpirasi memberikan beberapa keuntungan bagi tumbuhan yaitu mempercepat laju pengangkutan unsur hara melalui pembukuh xylem, menjaga turgiditas sel tumbuhan agar tetap pada kondisi ooptimal serta menjaga stabilitas suhu (Anonim, 2011).



























BAB III
METODE PRAKTIKUM

A.  Waktu dan Tempat
Hari/ Tanggal           : Rabu / 11 Mei 2011
Waktu                      : Pukul15.00 s.d 16.30  WITA
Tempat                     : Laboratorium Biologi Lantai. III  Timur FMIPA UNM.
B.  Alat dan Bahan
1.      Alat
a.       Potometer
b.      Gelas piala
c.       Pengukur waktu
2.      Bahan
a.       Cabang Acalypha sp
b.      Vaselin
c.       Aquadest
C.  Prosedur kerja
1.      Memotong cabang tumbuhan Acalypha sp, berdaun cukup dan segera memasukkan ke dalam air.
2.      Memasang cabang tresebut pada potometer dengan cara sebagai berikut : memasukkan pangkal cabang ke dalam lubanng pada tutup botol karet, sehingga ujung cabang tersebut tersembul kurang lebih 5 cm di bawah tutup botol karet. Sambil terendam di dalam air, pangkal cabang tersebut dipotong sepanjang 2 cm.
3.      Membuka klep potometer, menutup ujung pipa kapiler dengan jari. Potometer diisi dengan air melalui resevoir.
4.      Menutup klep dan memasukkan ujung pipa kapiler kedalam gels piala kecil berisi air.
5.      Memasukkan cabang Acalypha sppada lubang tutup botol karet. Kemudian memasang tutup botol karet tersebut pada tabung potometer. Memberi vaselin pada persinggungan antara tutup botol dengan dinding pinggir tabung potometer. Menjaga jangan sampai ada gelembung udara dalam tabung besar potometer.
6.      Membiarkan cabang tanapan tersebut melakukan transpirasi. Kemudian mengangkat ujung pipa kapiler dari gelas pial sehingga terbentuk gelembung udara yang kecil pada ujung pipa. Memasukkan kembali ujung pipa kedalam gelas piala. Membiarkan sampai gelmbung udara mencapai skala.
7.      Menentukan laju transpirasi (jarak yang ditempuh gelembung udara persatuan waktu) pada keadaan terang dan gelap.
8.      Memulas permukaan atas daun dengan vaselin, menentukan laju transpirasinya.
9.      Memulas permukaan bawah daun dengan vaselin, menentukan laju transpirasinya.
















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  Hasil Pengamatan
Tabel hasil pengamatan Laju Transpirasi
1)      Terang
Waktu (s)
Jarak (cm)
Laju trasnpirasi (cm/s)
600
1,5
0,0025
1200
2,0
0,0017
1800
2,3
0,0013
2)      Gelap
Waktu (s)
Jarak (cm)
Laju trasnpirasi (cm/s)
600
0,8
0,0013
1200
1,1
0,00092
1800
0,3
0,00078

B.  Analisis data
1)        Terang




2)        Gelap



C.  Grafik
1)      Terang

                                                            




2)      Gelap
D.  Pembahasan
Laju transpirasi suatu tanaman diperoleh dengan memperhitungkan jarak yang ditempuh persatuan waktu. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa laju transpirasi pada kedua tanaman berbeda-beda. Tanaman yang ditempatkan pada tempat yang terang memiliki laju transpirasi yang lebih besar jika dibandingkan dengan tanaman yang ditempatkan pada tempat yang gelap. Laju transpirasi pada tempat yang terang berturut-turut 0,0025 cm/s, 0,0017 cm/s dan 0,0013 cm/s. Sedangkan laju transpirasi pada tempat yang gelap berturut-turut 0,0013 cm/s, 0,00092 cm/s dan 0,00078 cm/s. Laju transpirasi pada tempat yang terang juga lebih kontinu dibandingkan dengan laju transpirasi pada tempat yang gelap.
Laju transpirasi ditentukan oleh beberapa faktor antara lain cahaya, jumlah daun sirkulasi udara dan jumlah stomata. Keempat faktor tersebut berbanding lurus terhadap laju transpirasi. Artinya seiring bertambahnya jumlah keempat faktor tersebut maka laju transpirasi juga akan semakin meningkat. Jika suatu tanaman diletakkan pada tempat yang memperoleh cahaya yang cukup maka laju transpirasi akan semakin besar atau meningkat, sebaliknya pada tempat yang kurang cahaya (gelap) laju transpirasi juga akan ikut berkurang atau menurun. Hal ini disebabkan karena stomata akan membuka apabila terkena cahaya dan akan menutup apabila cahaya kurang (sedikit). Begitupula halnya dengan jumlah daun sirkulasi udara dan jumlah stomata. Berdasarkan penjelasan tersebut maka hasil pengamatan yang diperoleh telah sesuai dengan teori yang ada.
Menurut Ismail (2011) radiasi  matahari sangat penting bagi reaksi cahaya dalam fotosintesis. Disamping itu, radiasi dapat menimbulkan panas. Panas yanng diterima oleh daun digunakan sebagai sumber energi bagi transpirasi. Untuk menguapkan 1 gr air, dibutuhkan lebih dari 500 kalori energi panas. Oleh karena itu, transpirasi memiliki pengaruh mendinginkan daun tumbuhan. Radiasi matahari diterima oleh daun melalui tiga cara yaitu cahaya (langsung, pantulan atau sebaran), radiasi panas (dari atmosfer, tanah atau benda-benda di sekeliling tumbuhan) dan aliran udara panas yang melewati daun.
Dari seluruh panas yang diabsorbsi oleh daun, hanya sebagian kecil diterima secara konduksi dari bagian tumbuhan lain. Pergantian siang dan malam mneyebabkan perubahan suhu, kelembaban intensitas cahaya, kecepatan  angin, keadaan stomata, dan sebagainya sehingga laju transpirasi daun biasanya menunjukkan sklus harian. Pada musim panas transpirasi meningkat dengan cepat pada padi hari, puncak laju transpirasi terjadi pada permulaan siang hari. Semakin sore laju transpirasi semakin menurun. Pada malam hari laju transpirasi dapat dikatakan nol (Ismail, 2011). 









BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.  Kesimpulan
Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap laju transpirasi antara lain jumlah daun, sirkulasi udara, cahaya dan jumlah stomata. Faktor-faktor tersebut berbanding lurus dengan laju transpirasi. 
B.  Saran
1.    Praktikan, sebaiknya serius dalam melakukan praktikum karena dibutuhkan ketelitian yang tinggi disetiap unit praktikum fisiologi tumbuhan.
2.    Asisten, sebaiknya selalu memperhatikan praktikan agar diperoleh hasil yang maksimal.
3.    Laboran, sebaiknya selalu mengecek ketersediaan bahan praktikum agar dapat selalu siap ketika dibutuhkan.




















DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Transpirasi. http://klimatologi.wordpress.com Diakses pada Tanggal 15 Mei 2011

Campbell. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid Ketiga. Jakarta. Erlangga.

Ismail. 2006. Fisiologi Tumbuhan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.

Ismail dan Abd. Muis. 2011. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM

Salisbury, Frank B. dan Clean W. Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB.

Sasmitamihardja, Dardjat dan Arbayah Siregar. 1996. Fisiologi Tumbuhan.  Bandung: Jurusan Biologi FMIPA ITB






















Categories:

Kotak Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!