Tuesday, March 27, 2012



BAB 1
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
Kebutuhan akan air itu mutlak bagi tanaman karena melakukan fotosintesis. Selai itu air juga berfungsi sebagai media bagi nutrient agar dapat digunakan oleh seluruh bagian tanaman. Air tersebut dapat hilang karena adanya penguapan pada permukaan daun yang disebut transpirasi.
Mempelajari dan mendalami kandungan dan peranan garam hara bagi tumbuhan tidak kalah pentingnya dengan mempelajari pokok bahasan lain dari fisiologi tumbuhan. Pengetahuan yang diperoleh melalui pemberian teori, memang penting. Namun hal ini tidaklah cukup jika tidak dibarengi dengan suatu kegiatan yang dapat melatih keterampilan mahasiswa untuk melakukan eksperimen secara langsung, sehingga mahasiswa dapat menarik kesimpulan sendiri tentang pentingnya garam hara tersebut bagi kehidupan tumbuhan. Tidak hanya itu para mahasiswa juga akan mendapat pengalaman yang baru, sehingga pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan praktikum, tidak akan lalu begitu saja, melainkan dapat tertanam dengan baik dalam ingatan para mahasiswa.
Untuk mengetahui jauh lebih lanjut mengenai transpirasi dan jumlah air yang diuapkan pada saat proses tersebut, maka diadakanlah suatu praktikum dengan menggunakan suatu tanaman Costus speciosus.








B.         Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya praktikum antara lain sebagai berikut:
1.      Mengetahui kecepatan transpirasi
2.      Mengtahui jumlah air yang diuapkan/ satuan luas daun dalam waktu tertentu.
C.     Manfaat
Setelah melakukan praktikum ini, maka mahasiswa dapat mengetahui alasan tanaman melakukan transpiras dan bagaimana proses transpirasi tersebut terjadi.































BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Zat-zat yang diperlukan dalam jumlah besar guna pertumbuhan tumbuhan  yaitu nitrat, fosfat, sulfat, kalsium, dan magnesium disebut sebagai macronutrient. Sedangkan zat-zat dari lingkungan yang diperlukan oleh organism untuk pertumbuhan sehat, tetapi hanya dalam jumlah yang sangat kecil, yang mencakup unsure runut dan vitamin disebut sebagai mikronutrient (Abercrombie, 1993).
Hilangnya air dari tubuh tumbuhan sebagian besar melalui permukaan daun yang disebut sebagai transpirasi. Transpirasi dapat terjadi melalui kutikula, stomata dan lentisel. Jumlah air yang dikeluarkan melalui transpirasi pada setiap tumbuhan tidak sama dan tergantung dari banayak faktor. Transpirasi dipengaruhi baik oleh faktor luar maupun faktor dalam. Faktor luar antara lain radiasi, temperatur, kelembaban, tekanan udara, angin dan kadar air dalam tanah. Faktor dalam antara lain ukuran daun, tebal tipisnya daun, keadaan permukaan daun (ada tidaknya lapisan lilin, banyalk sedikitnya bulu), serta jumlah dan letak stomata pada permukaan daun (Ismail, 2011).
Larutan hara berisi 13 unsur yang diyakini esensial bagi semua angiospermae dan gimnospermae, meskipun sebenarnya kebutuhan hara spwesies budidaya tertentu sa (±100 spesies) yang telah diteliti dengan baik. Dengan menambahkan O, H, dan C (dari O2, H2O, dan CO2), 16 unsur diperkirakan esential.Unsur ke-17 adalah nikel, yang tidak dikenal esensial dalam larutan hara yang dipersiapkan, tapi yang selalu terdapat dalam beberapa garam yang dipakai untuk membuat larutan tersebut, sebagai pencemar. Namun, mungkinkah tumbuhan juga memerlukan beberapa molekul organik, seperti vitamin, yang dibuat oleh mikroorganisme yang biasa hidup pada akar, batang, atau dannya. Berulangkali telah dinyatakan bahwa tumbuhan akan tumbuh lebih cepat dan memberi hasil yang lebih banyak jika diberi tambahan vitamin, khusunya vitamin B, dengan disemprotkan atau bagian tumbuhan dicelupkan ke dalam larutan vitamin atau vitamin itu diambil dari tanah. Umumnya lebih mudah untuk menentukan suatu unsure esensial, daripada tidak essential. Oleh karena itu, para peneliti sering menyatakan bahwa kalu pun suatu unsure adalah esensial, daripada tidakm esensial. Oleh karena itu para peneliti sering menyatakan  bahwa kalaupun suatu unsure itu penting, maka unsure itu dibutuhkan hanya pada konsentrasi  kurang dari batas kepekaan alat pelacaknya. Misalnya, dilaporkan bahwa bila vanadium essential bagai tanaman selada atau tomat, jumlah yang dibutuhkan kurang dari 20 µg/kg jaringan kering (20 ppb berdasarkan bobot). Karena adanya persoalan semacam ini, maka ada beberapa jenis unsure hara lagi, yang diperlukan dalam jumlah yang hampir tak terlacak, perlu ditambahkan ke dalam daftar itu (Salisbury, 1995).
Banyak mineral dalam tanah – khusunya mineral yang bermuatan positif seperti K+, Ca2+, dan Mg2+ - menempel melalui daya tarik listrik ke permukaan partikel tanah liat yang bermuatan negatif. Adanya tanah liat pada tanah akan membantu mencegah pencucian (penghanyutan) nutrien mineral selama hujan lebat atau irigasi karena partikel tanah liat yang halus menyediakan banyak luas permukaan untuk pengikatan mineral. Mineral yang bermuatan negatif dibuat tersedia bagi tumbuhan pada saat ion hidrogen dalam tanah menggantikan ion mineral dari partikel tanah liat. Proses ini disebut pertukaran kation, yang dirangsang oleh akar itu sendiri, yang mensekresikan H+ dan senyawa yang membentuk asam dalam larutan tanah. Mineral yang bermuatan negatif, seperti NO3-, H2PO4- dan SO42-, umumnya tidak terikat secara ketat ke partikel tanah sehingga cenderung tercuci lebih cepat
(Ismail, 2006).
Klorin diserap dari tanah sbagai ion klorida dan sebagian besar tetap ada dalam bentuk ini, meskipun lebih dari 130 senyawa organic yang megendung klorin sudah diketahui pada dunia tmbuhan daam jumlah kelumit. Kebanyakan spesies menyerap klorida 10 sampai100 kali lebih banyak dari yang  mereka butuhkan, maka klorin menjadi contoh pemakaian yang berlebihan. Salah satu fungsi klorida adalah  memacu pemecahan atau oksidasi air dalam fotosintesis, tapi klorin juga penting bagi akar dan pada pembelahan sel dalam daun, serta penting dalam linarut yang aktif mengendalikan tekanan osmosis (Anonim, 2009).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM


A.  Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal           : Senin, 9 Mei 2011
Waktu                     : 09.30 – 10.50 WITA
     Tempat                   : Laboratorium Biologi FMIPA UNM Lt III
                                     Sebelah timur.
B.  Alat dan Bahan
1.      Alat
a.    Botol 100 ml 8 buah
b.    Timbangan
c.    Kapas
d.   Kipas angin
e.    Kertas HVS
2.      Bahan
a.    Tanaman Costus speciosus
b.    Kapas bersih
c.    Larutan CaCl2 0,01M, 0,02M, 0,03M, 0,04M, 0,05M, 0,1M, 0,2M, dan aquades
d.   Vaselin
C.  Prosedur Kerja
1.        Mengisi botol dengan air kurang lebih setengahnya.
2.        Membalut dengan kapas tanaman Costus speciosus kemudian dimasukkan ke dalam botol yang telah terisi air kemudian olesi vaselin.
3.        Menimbang botol bersama tanamannya, lalu mencatat beratnya kemudian diletakkan di dalam ruangan.
4.        Setiap 30 menit, menimbang kembali dan dilakukan sampai 3 kali.
5.        Setelah penimbangan terakhir, mengambil tanaman tersebut dan mengukur luas total daunnya.



























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.  Hasil pengamatan
1.    Tabel hasil pengamatan transpirasi tanaman di tempat terang

Pengamatan ke-
Berat  tanaman (g)
I
249,4
II
248,9
III
248,0






2.    Tabel hasil pengamatan transpirasi tanaman di tempat gelap
Pengamatan ke-
Berat tanaman (g)
I
261
II
260,1
III
259

3.    Tabel hasil pengamatan transpirasi tanaman terkena kipas angin
Pengamatan ke-
Berat tanaman (g)
I
261
II
260,1
III
259

B.  Analisis data

1.    Tanaman di tempat terang
Diketahui:
Berat awal tanaman I (tempat terang)                                    : 250 gram
               Berat awal tanaman II (tempat gelap                          : 262 gram
               Berat pola daun tanaman I (tempat terang) (x)           : 0,3 gram
                Berat potongan kertas ukuran 1 cm2 adalah (y)         : 0,1 gram



a. Selisih:  249,4-248                 : 1,4 gram
b . LTD
maka:
           = 3 cm2
Kecepatan transpirasi:


                                       = 0,46 g/cm2/jam.

2.    Tanaman di tempat gelap

Diketahui:
            Berat awal tanaman I (tempat terang)                                    : 250 gram
               Berat awal tanaman II (tempat gelap                          : 262 gram
               Berat pola daun tanaman II (tempat gelap) (x)           : 0,3 gram
               Berat potongan kertas ukuran 1 cm2 adalah (y)          : 0,1 gram
a. Selisih: 261-259         : 2,0 gram
b. LTD
maka:
          = 3 cm2
Kecepatan transpirasi adalah
                                      = 0,6 g/cm2/jam

3.    Tanaman terkena kipas angin

Diketahui:
            Berat awal tanaman I (tempat terang)                                    : 250 gram
               Berat awal tanaman II (tempat gelap                          : 262 gram
               Berat pola daun tanaman II (tempat gelap) (x)           : 0,3 gram
               Berat potongan kertas ukuran 1 cm2 adalah (y)          : 0,1 gram
a. Selisih: 261-259         : 2,0 gram
b. LTD
maka:
          = 3 cm2
Kecepatan transpirasi adalah
                                      = 0,6 g/cm2/jam








C.  Pembahasan
Pada percobaan pegukuran transpirasi dengan cara penimbangan digunakan tumbuhan Costus speciosus yang diletakkan di dalam botol yang berisi air. Mulut botol disumbat dengan kapas kemudian diberi Vaseline, hal ini dimaksudkan agar air yang ada di dalam botol tidak menguap melalui mulut botol tersebut. Untuk membandingkan laju transpirasi tumbuhan di tempat gelap dan terang, maka tumbuhan Costus speciosus diletakkan di tempat berbeda.
Berdasarkan data yang diperoleh, laju transpirasi yang paling cepat di antara kedua tanaman itu diperoleh oleh tanaman yang diletakkan di tempat gelap. Hal ini dapat dilihat dari besarnya laju transpirasi. Laju transpirasi tumbuhan yang diletakkan di tempat terang adalah 0,46 g/cm2/jam, sedangkan tumbuhan yang diletakkan di tempat yang gelap dan diberi perlakuan kipas angin sama yaitu 0,6 g/cm2/jam. Hal ini agak menyimpang dari teori, seharusnya yang mengalami  transpirasi paling cepat adalah tanaman yang diletakkan ditempat yang terang. Hal ini karena salah satu factor yang berpengaruh terhadap traspirasi selain kelembaban, udara, ketersediaan air, dan kecepatan air, adalah cahaya . Makin besar intensitas cahaya, maka laju transpirasi juga semakin cepat. Adanya perbedaan hasil yang didapatkan dengan teori yang ada, disebabkan oleh karena perbedaan jumlah akar dari tanaman, dan perbedaan jumlah air yag tersedia. Akar tanaman yang jumlahnya berbeda menyebabkan tanaman yang berada di tempat yang gelap, yang memiliki akar yang lebih banyak mengalami transpirasi yang cepat. Perbedaan ketersediaan air di dalam botol disebabkan oleh perbedaan tinggi tanaman. Hal ini ikut berpengaruh karena, air yag dimasukkan ke dalam botol harus sedikit menyentuh bagian batang tanaman. Tanaman yang diletakkan di tempat gelap, lebih tinggi  dibanding tanaman di tempat terang, sehingga volume air yang harus dimasukkan agar menyentuh batang juga lebih banyak. Fakto lain yang menyebabkan kesalahan tersebut adalah vaseline yang dioleskan di mulut botol, meleleh, sehingga air juga dapat bertranspirasi melalui mulut botol tersebut.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


A.  Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
laju transpirasi Tumbuhan yang diletakkan di tempat yang lebih gelap lebih cepat di banding tumbuhan yang diletakkan di tempat terang. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data di dapatkan laju transpirasi tumbuhan di tempat gelap dan terkena angin (kipas angin) adalah 0, 6 g/cm2/jam sedangkan tanaman di tempat terang adalah 0,46 g/cm2/jam.

B.  Saran
1.        Mahasiswa diharapkan dapat lebih cermat dan teliti dalam melakukan praktikum karena untuk mengamati potensial air suatu sel dibutuhkan ketelitian uang tinggi.
2.        Asisten diharapkan selalu mengontrol praktikan karena praktikum ini sangat membutuhkan tingkat ketelitian yang tinggi.
3.        Laboran sebaiknya selalu mengecek alat-alat laboratorium agar apabila dibutuhkan untuk praktikum, akan selalu tersedia.









DAFTAR PUSTAKA

Abercrombie, dkk. 1993. Kamus Lengkap Biologi. Jakarta: Erlangga.

Anonim. 2011. Transpirasi. www.Wikipedia_berbahasa_Indonesia.html. Diakses pada 17 Mei 2011.

Ismail. 2006. Fisiologi Tumbuhan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.

Ismail. 2011. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.

Salisbury, Frank B. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB Bandung.







Categories:

Kotak Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!