Saturday, November 3, 2012



BAB  I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Dalam GBPP pendidikan dasar (Depdikbud, 1994) dijelaskan bahwa tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah :
(1)   memahami konsep IPA, (2) memiliki ketrampilan proses, (3) bersikap ilmiah, (4) mempu menerapkan berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam semesta dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, serta (5) memupuk rasa cinta terhadap alam semesta dan menyadari kebesaran Tuhan Yang Maha Esa

Tujuan kurikuler ini mencakup hakekat IPA dan juga kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Pembelajaran IPA harus menggambarkan, dijiwai, serta diarahkan untuk mencapai tujuan kurikuler ini. Perangkat pembelajaran, perencanaan pembelajaran, dan kegiatan pembelajaran IPA SMP harus mengacu pada tujuan pembelajaran IPA dan memperhatikan karakteristik siswa SMP sebagai pebelajar. Demikian pula ketrampilan-ketrampilan yang harus dikuasai untuk mencapai tujuan di atas harus benar-benar dilatihkan di kelas melalui kegiatan pembelajaran.
Menurut teori perkembangan kognitif Piaget, siswa kelas 3 SMP pada taraf berpikir operasional formal, pola berpikir yang ditunjukkan adalah sistematis dan meliputi proses-proses yang komplek (Amin, P dan K : 1987). Operasionalnya tidak lagi terbatas semata-mata pada penggunaan objek/benda-benda yang kongkrit tetapi dapat pula digunakan pada operasional lainnya. Anak  telah dapat memecahkan semua macam problem yang hanya dapat dipecahkan melalui penggunaan operasional logika yang lebih tinggi tingkatannya
Dari teori perkembangan kognitif Piaget di atas jika guru telah melaksanakan proses pembelajaran menggunakan metode yang proporsional, tujuan pembelajaran IPA yang dirinci menjadi tujuan pembelajaran umum dan lebih rinci lagi serta lebih operasional menjadi tujuan pembelajaran khusus lebih mudah dicapai, namun kenyataannya dalam setiap kali pelaksanaan pembelajaran pencapaian tujuan tersebut masih sangat rendah. Hal itu dapat dilihat dari hasil belajar siwa sangat rendah atau belum mencapai target ketuntasan.
Berdasarkan pemantauan hasil evaluasi ulangan harian mata pelajaran biologi pada konsep Kelangsungan Hidup Organisme kelas 3 F semester I tahun pelajaran 2004 – 2005 pada subkonsep Adaptasi setelah dilakukan analisis hasil ulangan harian masih belum mencapai target ketuntasan belajar secara klasikal.
Yang dimaksud dengan ketuntasan belajar secara klasikal yaitu jika 85 % dari sejumlah siswa  dalam satu kelas telah memperoleh nilai 6,5 atau lebih.
Sedangkan analisis hasil ulangan harian mata pelajaran biologi pada konsep Kelangsungan Hidup Organisme kelas 3 F semester I tahun pelajaran 2004 – 2005 pada subkonsep Adaptasi hanya mencapai ketuntasan belajar klasikal 56,8 %, yaitu 25 siswa dari 44 siswa di kelas 3 F telah mencapai ketuntasan belajar individual.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sebagian besar siswa mengalami kesulitan untuk memahami konsep Kelangsungan hidup organisme. Hal ini diduga karena pendekatan, metode, model pembelajaran, maupun strategi pembelajaran yang digunakan kurang tepat juga kemampuan guru serta sarana pembelajaran yang meliputi media, alat peraga, dan buku pegangan siswa yang terbatas sehingga mengakibatkan rendahnya pemahaman siswa terhadap konsep-konsep pada mata pelajaran biologi yang dapat dilihat dari belum tercapainya ketuntasan belajar siswa secara klasikal.
Selama ini dalam proses pembelajaran di kelas, guru mengajar seperti hanya menyuapi makanan kepada siswa. Siswa selalu menerima suapan itu tanpa komentar, tanpa aktif berpikir, siswa mendengar tanpa kritik apakah pengetahuan yang diterimanya dalam pembelajaran tersebut benar atau tidak. Dalam interaksi belajar mengajar ini guru berperan sangat penting, gurulah yang aktif sedangkan siswa bersifat pasif sehingga semua kegiatan berfokus pada guru. Jika permasalahan ini tidak segera diatasi, maka sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas 3 F untuk tahun 2004 – 2005 pada mata pelajaran biologi.
Melalui penelitian tindakan kelas ini diharapkan adanya peningkatan pemahaman siswa kelas 3 F terhadap konsep kelangsungan hidup organisme yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan hasil belajar atau meningkatnya ketuntasan belajar siswa secara klasikal. Adapun target peningkatan yang hendak dicapai sekurang-kurangnya 85 % dari jumlah siswa dalam satu kelas dapat mencapai nilai sekurang-kurangnya 6,5.


1.2  Identifikasi dan Rumusan Masalah
Data hasil refleksi awal diantaranya menunjukkan bahwa permasalahan yang merupakan kasus kelas adalah hasil belajar siswa sangat rendah. Hal itu ditunjukkan oleh nilai ulangan harian pada konsep kelangsungan hidup organisme subkonsep adaptasi mahluk hidup setelah dianalisis belum mencapai ketuntasan belajar klasikal, siswa kurang terlibat aktif dalam pembelajaran, dan masih banyak faktor-faktor lain yang menyebabkan rendahnya pemahaman siswa terhadap konsep-konsep pada mata pelajaran biologi terutama pada konsep kelangsungan hidup organisme.
 Faktor eksternal juga dapat mempengaruhi aktifitas belajar siswa baik di kelas maupun di rumah. Hasil wawancara awal dengan beberapa siswa terutama yang hasil belajarnya kurang faktor eksternal yang mempengaruhi aktifitas belajar siswa antara lain faktor ekonomi lemah sehingga siswa kurang memiliki buku-buku referensi, faktor lingkungan yang kurang menunjang yaitu banyaknya pengangguran akibat putus sekolah, hiburan malam, maraknya playstation, bilyard, dsb.
Dari sekian banyak permasalahan yang menyebabkan rendahnya pemahaman siswa terhadap konsep-konsep pada mata pelajaran biologi maka peneliti hanya membatasi pada permasalahan secara umum yang akan dipecahkan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu :
“Bagaimana meningkatkan pemahaman  siswa kelas 3 F SMP Negeri 1 Xxx terhadap konsep Kelangsungan Hidup Organisme ?”.
Jawaban atau tindakan pemecahan permasalahan di atas dapat diatasi apabila subpermasalahan-subpermasalahan lebih khusus di bawah ini telah terpecahkan :
  1. Bagaimana meningkatkan aktifitas siswa dalam kegiatan pembelajaran IPA melalui pendekatan inkuiri terpimpin ?
  2. Bagaimana meningkatkan hasil belajar siswa pada kegiatan pembelajaran IPA melalui pendekatan inkuiri terpimpin ?

1.3  Tujuan Penelitian

Tujuan umum penelitian tindakan kelas ini untuk meningkatkan pemahaman siswa kelas 3-F SMP Negeri 1 Xxx – Xxx terhadap konsep Kelangsungan Hidup Organisme melalui pendekatan inkuiri terpimpin yang ditunjukkan dengan peningkatan hasil belajar atau peningkatan ketuntasan belajar klasikal sekurang-kurangnya 85 %.
Tujuan khusus adalah :
1.      Meningkatkan aktifitas siswa dalam kegiatan pembelajaran IPA melalui pendekatan inkuiri terpimpin.
2.      Meningkatkan hasil belajar siswa pada kegiatan pembelajaran IPA melalui pendekatan inkuiri terpimpin.



1.4  Manfaat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini diharapkan bermanfaat :
1.      Bagi guru pelaku penelitian tindakan kelas dapat :
·         memberikan pengalaman merancang pembelajaran dan pengelolaan kelas dalam kegiatan pembelajaran biologi menggunakan pendekatan inkuiri terpimpin.
·         meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.
2.      Bagi siswa melalui penelitian tindakan kelas ini diharapkan mereka dapat aktif melaksanakan pembelajaran serta menemukan konsep-konsep sendiri berdasarkan pengamatan serta diskusi.
3.      Bagi Sekolah merupakan salah satu upaya untuk pelayanan pendidikan pada masyarakat.
4.      Bagi pengembangan ilmu penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat menyediakan alternatif kegiatan pembelajaran.

1.5  Ruang Lingkup
Penlitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan keterbatasan pelaksanaan penelitian :
1.      Materi pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah pokok bahasan Kelangsungan Hidup Organisme, subpokok bahasan Perkembangbiakan Mahluk Hidup yang merupakan salah satu materi pada mata pelajaran biologi kelas 3 SMP semester I.
2.      Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang direncanakan terdiri atas 3 siklus, tiap siklus tediri tahapan perencanaan (planing), pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan (observasi), dan refleksi.
3.      Penelitian tindakan kelas ini hanya dilakukan di kelas 3 F SMP Negeri 1 Xxx semester I tahun pelajaran 2004-2005 yang berjumlah 44 siswa.

1.6  Penjelasan Istilah
Berikut ini diberikan uraian definisi istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini.
§  Discovery : Suatu kegiatan atau pembelajaran yang dirancang sedemikian
rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep  dan prinsip-prinsip 
melalui proses mentalnya sendiri.
§  Inkuiri : pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa bukan dari mengingat suatu fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri.
§  Pembelajaran metode inkuiri terpimpin adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan guru dan siswa, siswa melakukan kegiatan : merumuskan masalah, membuat hipotesis, merencanakan kegiatan, melakukan percobaan, mengumpulkan data, membuat kesimpulan dibawah bimbingan guru.
§  Ketuntasan belajar individual : siswa telah memperoleh skor 65 % atau lebih dari skor maksimal yang diujikan.
§  Ketuntasan belajar klasikal : sejumlah 85 % siswa atau lebih dari jumlah siswa du kelas telah mencapai ketuntasan belajar individual.
§  Pendekatan : suatu cara yang dianggap terbaik untuk mencapai sesuatu.
Dalam PBM : suatu cara yang digunakan agar siswa dapat memahami suatu konsep pengetahuab dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
§  Metode : perencanaan secara menyeluruh untuk menyajikan materi pelajaran secara teratur, bersifat prosedural melalui langkah-langkah yang teratur dan bertahap mulai dari penyusunan, perencanaan pembelajaran, penyajian pembelajaranm dan penilaian hasil pembelajaran.
§  Model Pembelajaran : Skenario kegiatan pembelajaran di kelas.
§  Strategi : Ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya yang ada untuk melakukan kebijakan tertentu dalam perang dan damai.
§  Strategi pembelajaran :
·         sesuatu yang patut dikerjakan untuk melancarkan kegiatan pembelajaran
·         Proses-proses mental dan taktik yang digunakan siswa untuk memfasilitasi belajar, termasuk memori dan metakognitif sehingga siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan sendiri.















LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( PTK ) TAMAN KANAK-KANAK

CONTOH KARYA TULIS ILMIAH (KTI) :

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( PTK ) TAMAN KANAK-KANAK

INTEGRASI OUTDOOR LEARNING DAN INDOOR LEARNING DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK DI TK XXXXX

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pembelajaran merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan yang memadukan secara sistematis dan berkesinambungan suatu kegiatan. Pembelajaran di taman kanak-kanak bersifat spesifik didasarkan pada tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan anak dengan mengembangkan aspek-aspek perkembangan yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional, kemandirian, berbahasa, kognitif, fisik/motorik dan seni.
Kemandirian anak sebagai salah satu aspek perkembangan Bidang Pengembangan Pembiasaan Program Pembelajaran Taman Kanak-kanak Kurikulum 2004 mempunyai peran penting, karena aspek kemandirian dimaksudkan untuk membina anak agar dapat menolong dirinya sendiri dalam rangka kecakapan hidup (life skill), serta memperoleh keterampilan dasar yang berguna untuk kelangsungan hidup anak. Melalui pemberian rangsangan, stimulasi dan bimbingan, diharapkan akan meningkatakan perkembangan perilaku dan sikap melalui pembiasaan yang baik, sehingga akan menjadi dasar utama dalam pembentukan pribadi anak sesuai dengan nilai-nilai yang ada dimasyarakat.
Pembelajaran kemandirian anak yang diarahkan untuk mengembangkan kecakapan hidup melalui kegiatan-kegiatan konkrit yang dekat dengan kehidupan anak sehari-hari mempunyai peranan penting. Namun keberhasilan kegiatan belajar mengajar yang mengembangkan aspek kemandirian anak sering meresahkan guru Kelompok A-1 TK XXXXXXX. Berdasarkan pengamatan mulai awal masuk sekolah sampai pertengahan semester I Tahun Pelajaran 2006/2007 menunjukkan bahwa kemandirian murid Kelompok A-1 masih kurang. Kondisi ini diindikasikan dengan anak tidak mau menerima tugas dari guru, dalam mengerjakan tugas tidak tuntas, anak kurang percaya diri mampu mengerjakan tugas sendiri dan selalu meminta bantuan guru, serta kurang antusias dalam kegiatan belajar mengajar. Penulis perlu mengatasi masalah tersebut dengan melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

1.2 Identifikasi Masalah
Kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diharapkan. Kegiatan pembelajaran mengembangkan kemampuan untuk mengetahui, memahami, melakukan sesuatu, hidup dalam kebersamaan dan mengaktualisasikan diri. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran perlu : (1) berpusat pada peserta didik; (2) mengembangkan kreatifitas peserta didik; (3) menciptakan kondisi yang menyenangkan dan menantang; (4) bermuatan nilai, etika, estetika, logika dan kinestetika; (5) menyediakan pengalaman belajar yang beragam. (Puskur 2004 dalam Majid, 2005)
Supaya proses belajar itu menyenangkan, guru harus menyediakan kesempatan kepada anak didik untuk melakukan apa yang dipelajarinya, sehingga anak didik memperoleh pengalaman nyata. Model pembelajaran dengan jenis kegiatan bervariasi serta pendekatan belajar sambil bermain, bermain seraya belajar dapat menumbuhkan motivasi, percaya diri dan tanggung jawab anak didik untuk melakukan tugas yang diberikan guru secara mandiri.
Agar kemandirian anak dalam pembelajaran dapat meningkat, maka diusulkan penerapan integrasi outdoor learning dan indoor learning pada Kelompok A-1 TK XXXXXXX.

1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang dan identifikasi masalah dalam penelitian ini, dikemukakan permasalahan sebagai berikut :
Bagaimanakah integrasi outdoor learning dan indoor learning dapat meningkatkan kemandirian anak pada Kelompok A-1 TK XXXXXXX.

1.4 Tujuan
Tujuan penelitaian tindakan kelas ini, sebagai berikut :
Untuk mengetahui bagaimana integrasi outdoor learning dan indoor learning dapat meningkatkan kemandirian anak pada Kelompok A-1 TK XXXXXXX.

1.5 Hipotesis Tindakan
Hipotesis dalam penelitaian tindakan kelas ini sebagai berikut : Integrasi outdoor learning dan indoor learning dapat meningkatkan kemandirian anak pada Kelompok A-1 TK XXXXXXX.
1.6 Manfaat Penelitian
a. Manfaat bagi anak didik :
• Memberikan pengalaman belajar yang atraktif, berkesan dan bermakna.
• Memberikan pengalaman belajar yang nyata dengan kegiatan outdoor learning dan indoor learning.
• Meningkatkan kemandirian anak.
b. Manfaat bagi guru :
• Meningkatkan kreatifitas guru dalam menemukan model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemandirian anak.
• Meningkatkan peranan guru dalam mendampingi anak didik melakukan kegiatan pembelajaran, sebagai usaha mengatasi masalah kemandirian anak.
c. Manfaat bagi sekolah :
• Memberikan masukan bagi peningkatan mutu pembelajaran yang kreatif dan inovatif di taman kanak-kanak.
• Memberikan inspirasi untuk menggali dan mewujudkan model-model pembelajaran yang inovatif dengan mengoptimalkan potensi lingkungan sekitar taman kanak-kanak.
• Sebagai sarana pengembangan dan peningkatan profesionalisme guru.

Definisi Istilah

.... dst.

Kotak Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!