Saturday, November 3, 2012


ABSTRAK

XXXX (2007).  Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Melalui Penerapan Metode STAD Pada Siswa Kelas X. 6 SMA 1 Xxx tahun 2007.

            Penelitian ini dilatarbelakangi pada kenyataan  bahwa sebagian besar siswa merasa kesulitan belajar fisika. Hasil belajar Fisika masih jauh dari harapan yaitu  di bawah nilai KKM 60. Standar Kompetensi Menerapkan konsep besaran fisika dan pengukurannya merupakan materi dasar yang erat penggunaannya dengan kehidupan sehari-hari.Rendahnya hasil belajar fisika disebabkan karena kurang motivasi dan semangat belajar untuk menguasai materi. Karena merasa sulit menghafal rumus, mengakibatkan siswa kurang termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran. Guru juga merupakan penentu keberhasilan pembelajaran standar kompetensi tersebut.. Untuk meningkatkan keberhasilan siswa dalam mencapai kompetensi yang diharapkan perlu diterapkan Metode yang lebih menuntut aktivitas,kerjasama dan motivasi siswa. Dengan menerapkan metode STAD (Student Teams Achievement Division) diharapkan kerja kelompok mampu menumbuhkan semangat belajar siswa,Sehingga siswa semakin semangat mengikuti pembelajaran.Metode STAD merupakan Pembelajaran Kooperatif yang pada dasarnya adalah belajar bersama dalam kelompok , sehingga dalam proses belajar perlu adanya penekanan pada kerja kelompok . Namun pada akhirnya siswa tetap berkompetisi untuk menjadi yang terbaik. .
            Penelitian ini bertujuan untuk memberikan tambahan informasi dan pemikiran tentang salah satu dari sekian banyak metode pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kompetensi siswa. Keberhasilan penerapan model, pemilihan media ,strategi, maupun pendekatan pembelajaran tentunya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Namun penelitian ini setidaknya memberikan gambaran bagaimana seorang guru berusaha untuk meningkatkan  hasil belajar siswa melalui proses pembelajaran yang berkualitas.

Kata kunci : hasil belajar, metode STAD



BAB  I
PENDAHULUAN

A.  Latar  Belakang
Mata pelajaran Fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang ada pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan tidak sedikit anak yang merasa kesulitan dalam mempelajari Fisika. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa dari tahun ke tahun.
Berdasarkan pengalaman guru mengajar,  ternyata dari hasil test Fisika cenderung memperoleh hasil yang masih rendah. Sebagai guru baik di kelas X, XI maupun XII selalu  merasa kurang puas dengan hasil belajar siswa, dari setiap hasil ulangan cenderung sebagian besar siswa belum mencapai  Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu nilai 60, sehingga belum mencapai ketuntasan klasikal. Baru setelah diadakan ulangan perbaikan, ketuntasan klasikal tercapai, dan itupun mesti dilakukan berulang kali, bahkan pada beberapa materi yang dianggap lebih sulit ulangan perbaikan ( remedial ) perlu diulang lagi. Padahal untuk melakukan ulangan perbaikan perlu tambahan waktu, yang terkadang harus dilakukan siang hari, setelah pulang sekolah.
Mengingat terbatasnya waktu berdasar pembagian jumlah jam pelajaran pada kurikulum yang digunakan sekarang, sangat tidak memungkinkan untuk memberikan ulangan perbaikan di pagi hari ( pada jam-jam efektif), karena akan menghambat materi-materi berikutnya. Sehingga penulis merasa perlu mencari solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan di atas.
Dari fakta hasil pre test yang diperoleh bahwa empat siswa dari 42 ( 9,5% ) siswa kelas X . 6 SMA 1 Xxx memiliki nilai mencapai KKM, sedangkan sisanya 38 siswa ( 90,5% ) masih belum mencapai KKM. Hal itu disebabkan beberapa faktor antara lain kurang motivasi belajar dan semangat untuk memahami suatu konsep. Dari hasil wawancara di kelas, sebagian besar siswa merasa malas belajar dan belum maksimal dalam belajar Fisika, karena menganggap Fisika identik dengan banyak rumus. Mereka menganggap belajar Fisika susah menghafalnya. Padahal belajar Fisika sebenarnya tidak selalu harus menghafal, sebagai guru lebih menekankan “Jangan menghafal rumus, rumus dapat di analisa dan dinalar”.
Belajar Fisika lebih menekankan penalaran dalam pemahaman konsep melalui pembelajaran. Belajar Fisika harus mau berfikir, sering disosialisasikan dengan kreativitas dan pemecahan masalah. Tanpa adanya rasa keingintahuan yang kuat atau motivasi tinggi hal tersebut tidak dapat tercapai.
Agar siswa tidak merasa sulit belajar Fisika, supaya pemahaman konsep lebih mudah dan siswa tidak jenuh karena merasa harus menghafal banyak rumus. Melalui pemanfaatan beberapa alat laboratorium yang ada ( penggaris, micrometer sekrup, jangka sorong, neraca, kubus, balok, silinder, neraca pegas ), dengan metode STAD ( Student Teams-Achievement Divisions) diharapkan siswa kelas X . 6 SMA 1 Xxx mampu melakukan penalaran dan mau berfikir untuk memudahkan pemahaman  standar kompetensi menerapkan konsep  besaran Fisika dan pengukurannya, sehingga diperoleh hasil belajar yang lebih baik. Metode STAD diharapkan tepat untuk pembelajaran besaran fisika dan pengukurannya karena pada standar kompetensi ini siswa betul-betul dituntut dapat melakukan sendiri pengukuran besaran-besaran dengan berbagai alat ukur secara benar dan teliti, sehingga setiap siswa dipastikan pernah mengukur dan membaca skala yang tertera  pada alat ukur dengan bantuan dan kerjasama teman dalam satu kelompok.
Metode STAD merupakan salah satu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan teori Psikologi sosial. Dalam teori ini sinergi yang muncul dalam kerja kooperatif menghasilkan motivasi yang lebih daripada individualistik dalam lingkungan kompetitif. Kerja kooperatif meningkatkan perasaan positif satu dengan lainnya, mengurangi keterasingan dan kesendirian , membangun hubungan dan menyediakan pandangan positif terhadap orang lain. Model STAD ini mempunyai beberapa kelebihan antara lain didasarkan pada prinsip bahwa para siswa bekerja bersama-sama dalam belajar dan bertanggung jawab  terhadap belajar teman-temannya dalam tim dan juga dirinya sendiri, serta adanya penghargaan kelompok yang mampu mendorong para siswa untuk kompak, setiap siswa mendapat kesempatan yang sama untuk menunjang timnya mendapat nilai yang maksimum sehingga termotivasi untuk belajar. Model STAD memiliki dua dampak sekaligus pada diri para siswa yaitu dampak instruksional dan dampak sertaan. Dampak instruksional yaitu penguasaan konsep dan ketrampilan, kebergantungan positif, pemrosesan kelompok, dan kebersamaan. Dampak sertaan yaitu kepekaan sosial, toleransi atas perbedaan,  dan kesadaran akan perbedaan. Kelemahan yang mungkin ditimbulkan dari penerapan metode STAD ini adalah adanya perpanjangan waktu karena kemungkinan besar tiap kelompok belum dapat menyelesaikan tugas sesuai waktu yang ditentukan sampai tiap anggota kelompok memahami kompetensinya.
B.  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
Apakah dengan menerapkan metode STAD dapat meningkatkan hasil belajar fisika, untuk  standar kompetensi  menerapkan konsep besaran fisika dan pengukurannya  pada siswa kelas X . 6 SMA 1 Xxx Tahun Pelajaran 2007 ?
C.  Pemecahan Masalah
Untuk mengatasi masalah di atas diterapkan metode STAD, kelebihan metode ini antara lain :
1. Siswa lebih mampu mendengar, menerima, dan menghormati serta menerima    orang lain.
2. Siswa mampu mengidentifikasi akan perasaannya juga perasaan orang lain.
3. Siswa dapat menerima pengalaman dan dimengerti orang lain.
4. Siswa mampu meyakinkan dirinya untuk orang lain dengan membantu orang lain dan meyakinkan dirinya untuk saling memahami dan mengerti.
5. Mampu mengembangkan potensi individu yang berhasil guna dan berdaya guna, kreatif, bertanggung jawab, mampu mengaktualisasikan, dan mengoptimalkan dirinya terhadap perubahan yang terjadi.
D.  Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa dengan menerapkan metode STAD dapat meningkatkan hasil belajar fisika pada siswa kelas X . 6 SMA 1 Xxx Tahun pelajaran 2007.
E.  Manfaat Penelitian
Dalam proses pembelajaran melibatkan siswa dan guru, sehingga siswa dan guru memegang peranan penting. Tanpa adanya perbaikan dari kedua belah pihak tidak mungkin hasil pembelajaran meningkat, begitu juga dengan peran serta sekolah.
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan perbaikan bagi pembelajaran di kelas X . 6 SMA 1 Xxx. Manfaat penelitian ini antara lain :
1.      Bagi Siswa :
a.       Mendapatkan pengalaman belajar dengan pemanfaatan alat laboratorium. Secara bergantian setiap anak melakukan pengukuran panjang dengan penggaris, micrometer, sekrup, dan jangka sorong, pengukuran massa dengan neraca.
b.      Mendapatkan pengalaman belajar yang lebih memudahkan siswa dalam pemahaman materi dengan tutor sebaya siswa yang paham terlebih dulu menjelaskan siswa lain yang belum paham, siswa yang paham dulu bertanggung jawab membuat semua anggota kelompoknya menjadi paham semua.
c.       Mendapatkan pengalaman belajar berkelompok yaitu dengan menyelesaikan pengisian dan perhitungan data secara berkelompok.

2.   Bagi Guru :
a.   Mendapatkan pengalaman mengajar menggunakan alat laboratorium, yaitu memanfaatkan alat yang ada semaksimal mungkin agar setiap anak dapat dan pernah menggunakan micrometer sekrup, jangka sorong dan neraca.
b.   Mendapatkan pengalaman mengajar yang lebih memudahkan siswa dalam memahami materi yaitu dengan memberi kesempatan siswa untuk mengamati dan memahami konsep secara langsung dengan pengamatan menggunakan alat laboratorium.
c.   Mendapatkan pengalaman mengajar dengan siswa berkelompok, yaitu dengan membuat setiap anggota kelompok bertanggung jawab terhadap anggota lainnya untuk memahami materi dengan tutor sebaya siswa yang sudah paham menjelaskan siswa lain yang belum paham.
3.   Bagi Sekolah
Mendapatkan hasil belajar yang lebih baik, pencapaian prestasi belajar meningkat.















BAB  II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A.    Landasan Teori
1.      Pembelajaran Fisika
Mata pelajaran Fisika   

…. Dst


F. METODE LAYANAN KONSELING

BAB  I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan/atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, dan ayat (3) menegaskan bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Untuk itu, seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara Indonesia.
Pendidikan di sekolah merupakan pendidikan yang terrencana yang dalam pelaksanaannya melibatkan  berbagai komponen.
Kehadiran siswa di sekolah untuk mengikuti kegiatan pembelajaran merupakan salah satu faktor keberhasilan belajar siswa. Itulah sebabnya maka kehadiran di sekolah menjadi salah satu syarat untuk mengikuti ulangan atau ujian.
Dalam kenyataan sehari – hari ada siswa SMP Negeri 3 Xxx yang tidak masuk (absen). Penyebab ketidak hadiran siswa di sekolah dapat dikategorikan dalam 3 jenis, yaitu
1) Ketidak hadiran karena sakit
2) Ketidak hadiran karena keperluan tertentu
3) Ketidak hadiran tanpa alasan (alpa)
Ketidak hadiran untuk kategori 1 dan 2 sepanjang tidak dalam jumlah yang banyak, masih dapat diterima atau dimaklumi. Siswa yang sakit bila dipaksakan tetap masuk malah bisa membahayakan kesehatan yang bersangkutan. Demikian juga ketidak hadiran karena ada alasan tertentu –seperti  khitanan misalnya– adalah merupakan ketidak hadiran siswa yang dapat diterima oleh pihak sekolah. Ketidak hadiran untuk kategori 1 dan 2 biasanya dibuktikan dengan surat dari orang tua / wali atau surat keterangan dari dokter.
Ketidak hadiran kategori ketiga yaitu ketidak hadiran tanpa alasan, sangat berpotensi menimbulkan masalah bagi kegiatan pembelajarana siswa. Dalam keadaan ini, ketidak hadiran siswa tanpa ada surat keterangan dari orang tua. Oleh karena itu tak dapat diketahui apakah siswa tersebut memang tidak berangkat dari rumah, atau sebenarnya dari rumah berangkat sekolah namun tidak sampai di sekolah.
B.     Perumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah “Apakah pemberian layanan konseling perorangan dapat menurunkan tingkat ketidak hadiran siswa kelas VII  SMP Negeri 3 Xxx tahun pelajaran 2007/2008”.
C.     Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui apakah ketidak hadiran siswa kelas VII  SMP Negeri 3 Xxx tahun pelajaran 2007/2008 dapat menurun setelah pelaksanaan layanan konseling perorangan.
D.     Manfaat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan harapan dapat memberi bermanfaat, yaitu
1.      Bagi siswa, diharapkan dapat mendorong dan memotivasi siswa terutama yang tingkat ketidak hadirannya tinggi untuk selalu berusaha masuk sekolah.
2.      Bagi guru pembimbing, diharapkan dapat meningkatkan layanan konseling, terutama konseling perorangan dalam upaya menurunkan tingkat ketidak hadiran siswa.
3.      Bagi guru mata pelajaran, diharapkan dapat meningkatkan apresiasinya terhadap pelayanan konseling perorangan yang dilaksanakan guru pembimbing, sehingga guru mata pelajaran dapat memberikan kesempatan yang seluas – luasnya pada siswa yang akan meminta / menghadiri pertemuan konseling dengan guru pembimbing. 
4.      Kepala Sekolah, diharapkan sebagai bahan masukan dalam upaya pembinaan dan pengembangan kualitas pelayanan konseling, terutama layanan konseling perorangan, yang pada akhirnya berimbas pada keberhasilan belajar siswa.

                                                                                                                             BAB II
                                                                                                                   KAJIAN TEORI
A.     Karakteristik Siswa SMP
1.      Pengertian
SMP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) adalah merupakan sekolah dalam kelompok pendidikan dasar setelah SD (Sekolah Dasar). Dalam PP No. 28 Tahun 1990 (1992 : 19) pasal 1 disebutkan :

1.      Pendidikan dasar adalah pendidikan umum yang lamanya sembilan tahun, diselenggarakan selama enam tahun di SekolahDasar dan tiga tahun di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama atau satuan pendidikan yang sederajat.
2.      Sekolah Dasar adalah bentuk satuan pendidikan dasar yang menyelenggarakan program enam tahun.
3.      Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama adalah bentuk satuan pendidikan dasar yang menyelenggarakan program tiga tahun.

Sementara yang disebut dengan siswa menurut PP No. 28 Tahun 1990  Pasal 1, ayat 4 (1992 : 19) adalah peserta didik pada satuan pendidikan dasar di jalur pendidikan sekolah.
Dengan kutipan  di atas kiranya dapat dijelaskan bahwa siswa SMP adalah peserta didik pada satuan pendidikan dasar SMP, sekolah yang berada satu tingkat setelah SD.  Siswa SMP pada umumnya berusia antara 12 sampai dengan 15 tahun. (DepDikbud, 1993 : 1), kalaupun ada yang lebih tua dari usia itu, jumlah mereka tidaklah seberapa. 
2.      Ciri – ciri Siswa SMP
Sebagaimana dijelaskan pada halaman sebelumnya, bahwa pada umumnya siswa SMP berusia antara 12 sampai dengan 15 tahun.   Apabila dikaitkan dengan masa perkembangan, maka siswa SMP sudah bukan berada pada masa kanak – kanak lagi. Tentang penamaan masa perkembangan pada rentang usia 12 sampai dengan 15 tahun, ada beberapa pendapat yang berbeda satu dengan yang lain. WHO, sebagaimana dikutip Sunarto dan Agung Hartono  (1994 : 46) menetapkan batas usia 10 sampai 20 tahun sebagai batasan usia remaja. Sementara Elizabeth B. Hurlock, sebagaimana dikutip Andi Mappiare (1982 : 24) menetapkan usia 10 sampai 13 atau 14 tahun sebagai masa pubertas atau pre adolescence, dan usia 13 atau 14 sampai  17 tahun sebagai masa remaja awal.
Kemudian Andi Mappiare (1982 : 25) merangkum pendapat ahli – ahli psikologi perkembangan dari Indonesia sebagai berikut :
… Beberapa ahli di Indonesia, dalam menentukan usia remaja, langsung maupun tidak, banyak dipengaruhi oleh Hurlock di atas. MA Prayitno … menyebutkan rentangan usia 13 – 21 tahun sebagai masa remaja. Singgih Dirgagunarsa dan suami … menetapkan bahwa usia antara 12 – 22 tahun sebagai masa remaja. Susilowindradini,… berpatokan pada literatur Amerika dalam menentukan masa pubertas (11/12 – 15/16 tahun). Selanjutnya beliau menguraikan tentang masa remaja awal atau Early adolescence (13 – 17 tahun)…

Dengan mengacu pada beberapa pendapat di atas, maka peneliti berkesimpulan bahwa siswa SMP yang sebagian besar berusia antara 12 sampai dengan 15 tahun berada pada masa pubertas dan masa remaja awal, dimana antara masa pubertas dengan masa remaja awal ada periode yang bertumpang tindih.  Dengan demikian maka siswa SMP memiliki ciri – ciri sebagai individu yang sedang mengalami masa pubertas dan remaja awal.
a.         Masa Pubertas
Kata ‘pubertas” berasal dari kata Latin, yang berarti usia menjadi orang (Andi Mappiare, 1982 : 27).  Suatu periode dimana anak dipersiapkan untuk mampu menjadi individu yang dapat melaksanakan tugas biologis berupa melanjutkan keturunannya atau berkembang biak.    
b.        Masa Remaja Awal
Andi Mappiare (1982: 31) mengatakan bahwa manakala usia anak telah genap 12 / 13 tahun maka mulailah ia menginjak suatu masa kehidupan yang dikatakan remaja awal. Masa ini akan berakhir pada usia 17 / 18 tahun.  Apabila masa pubertas berakhir pada usia 13/ 14 tahun menurut Elizabeth B. Hurlock, atau pada usia 15 tahun menurut Susilo Windradini, sementara masa remaja awal dimulai pada 12 / 13 tahun, maka memang ada periode yang tumpang tindih antara masa pubertas dengan masa remaja awal.
Pada paruhan akhir masa pubertas, atau paruhan awal masa remaja awal terdapat gejala yang disebut gejala “negatif phase”.  Hurlock sebagaimana dikutip Andi Mappiare (1982 : 32)  menjelaskan cukup lengkap  tentang gejala negative phase antara lain :
1.      Keinginan untuk menyerndiri
2.      Berkurang kemamuan untuk bekerja
3.      Kurangnya koordinasi fungsi – fungsi tubuh.
4.      Kejemuan ,
5.      Kegelisahan
6.      Pertentangan sosial
7.      Penentangan terhadap kewibawaan orang dewasa
8.      Kepekaan perasaan
9.      Kurang percaya .

1)        Ciri khas remaja awal
Disamping ciri – ciri dan gejala – gejala negative phase yang dimiliki bersama (masa pubertas dan remaja awal) tersebut di atas, terdapat pula ciri – ciri khas remaja awal.  Ciri – ciri tersebut adalah (Susilo Windradini, 1990: 146) :
a)         Status anak remaja dalam periode ini tidak menentu
Dalam hal ini status remaja pada saat ini cukup membingungkan.  Suatu saat ia ia diperlakukan seperti anak – anak.  Namun disaat lain ia dituntut bertindak jangan seperti anak – anak.
b)        Dalam masa ini anak remaja emosional
Banyak perasaan yang dialami remaja, antara lain rasa marah, takut, cemas, iri, sedih,..
c)         Anak remaja dalam masa ini tidak stabil keadaannya.
d)        Anak – anak remaja punya banyak masalah


B.     Tata tertib siswa
1.      Pengertian Tata tertib Siswa
Tata tertib adalah peraturan yang harus ditaati dan dilaksanakan. (Menuk Hardaniwati dkk, 2003: 683). Lebih lanjut KBBI (2001: 1148) menjelaskan tata tertib sebagi disiplin.  Dengan demikian tata tertib siswa  dapat didefinisikan sebagai “peraturan disiplin yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh siswa baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah”.
2.      Tujuan Diterapkannya Tata Tertib Siswa
Tujuan diadakannya tata tertib siswa adalah dalam rangka menciptakan iklim dan budaya sekolah yang menunjang kegiatan pembelajaran yang efektif.(SMP N 3 Xxx : 2007)

3.      Pelanggaran Tata Tertib Siswa
Suatu aturan disusun adalah untuk dapat ditaati atau dilaksanakan. Namun demikian hampir tidak dapat dihindari, dia antara sekian banyak individu, ada saja individu yang melanggar aturan yang telah ditetapkan tersebut. Demikian juga terhadap tata tertib sekolah, dalam pengamatan peneliti di SMP Negeri 3 Xxx, ada siswa yang melakukan pelanggaran terhadap tata tertib yang telah ditetapkan. Pelanggaran itu
4.      Ketidak Hadiran Siswa Sebagai Salah Satu Pelanggaran Tata Tertib
Ketidak hadiran siswa dapat digolongkan dalam  tiga jenis, yaitu ketidak hadiran karena sakit, ketidak hadiran karena ada permintaan ijin dari wali siswa, serta ketidak hadiran tanpa alas an yang jelas. Ketidak hadiran jenis pertama dan kedua dibuktikan dengan surat yang dikirim oleh orang tua atau wali siswa. Ketidak hadiran karena alasan sakit bisa juga dibuktikan dengan adanya surat keterangan dari dokter yang menyatakan bahwa siswa sakit, dan harus beristirahat dalam jangka waktu tertentu.
Ketidak hadiran siswa jenis ketiga, adalah ketidak hadiran yang tanpa adanya surat keterangan baik dari dokter, maupun dari orang tua / wali siswa. Ketidak hadiran jenis inilah yang termasuk dalam kategori pelanggaran tata tertib sekolah.
C.     Pelayanan Konseling
1.      Pengertian Pelayanan Konseling
Departemen Pendidikan Nasional (2007:5) mendefinisikan pelayanan konseling :
Pelayanan Konseling adalah
…..dst

Kotak Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!