Friday, November 9, 2012


"Satu dari empat mahasiswa UI adalah tamatan bimbingan belajar (bimbel) Nurul Fikri," demikian bunyi iklan di koran nasional pada 1997. Tahun-tahun sebelumnya, berturut-turut hasil survey ini adalah satu banding lima, enam dan tujuh.
Sejak berdiri tahun 1985 lalu, hingga kini NF telah mencetak ribuan siswa-siswa SMU yang telah menembus berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN), terutama UI. "Survey itu bukan dusta, sebab secara moral bertentangan. Apalagi NF lembaga Islam," jelas ketua Yayasan Nurul Fikri, Fahmi Alaydrus kepada Sahid.
Kesuksesan NF di jalur bimbel dan kursus tersebut menantang mereka untuk merambah ke sekolah formal. Tahun 1992 didirikanlah TK dan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) yang menerapkan sistem full day school (belajar hingga sore) untuk pertama kalinya. Hasilnya cukup menggembirakan. Tak kurang 60 SDIT se-Jawa di bawah NF yang bergabung dalam Forum Silaturrahmi SDIT (Forsil SDIT) mengembangkan model NF.

Sekolah unggulan
Nurul Fikri tidak sendirian. Setelah kondisi umat Islam semakin membaik, di beberapa kota besar muncul sekolah-sekolah berbasis Islam yang cukup bonafide, misalnya Perguruan Islam Al Azhar (PIA). Sekolah Islam yang berlokasi di Kebayoran Baru, Jakarta. Didirikan Buya Hamka sekolah yang berlokasi di Masjid Al Azhar ini, kini menjadi simbol kelas menengah kota. Mulai TK, SD, SMP hingga SMU ada di sini. Al Azhar memiliki fasilitas yang cukup memadai bagi 10 ribu siswa.
Di tingkat SMU muncul juga beberapa sekolah Islam yang bermutu. Misalnya saja ada SMU (Plus) Muttahari, Bandung, yang didirikan oleh Jalaluddin Rahmat, pakar komunikasi Indonesia. Juga Madania Boarding School, Bogor, dan SMU Al Azhar Boarding School, Karawaci, Bekasi.
Selain pelajaran umum, SMU (Plus) Mutahhari juga memberi pelajaran dirasah Islamiyah mencakup: Ulumul Quran, Ulumul Hadits, Ushul Fiqh, dan Fiqh Perbandingan Mazhab, serta Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. SMU Madania Boarding School didirikan Yayasan Paramadina pimpinan Nurcholis Madjid juga memadukan sistem pendidikan umum dan pesantren. Semua siswa diasramakan layaknya pondok pesantren di Indonesia. Sekolah yang kepalai Dr Komaruddin Hidayat ini menyediakan komputer dan saluran telepon yang langsung online ke setiap asrama.
Yang agak istimewa, SMU Al Azhar Boarding School, Karawaci, Bekasi. Meski namanya sama, SMU ini tidak ada hubungan dengan Al Azhar yang di Kebayoran Baru. Menempati lahan seluas 2 hektar, sekolah ini memang agak elit. Selain lokasinya di kawasan elite Lippo City Cikarang, kualitas sekolahnya bertaraf internasional. Mulai fasilitas laboratorium, olah raga seperti tenis, sepak bola, basket, dan kolam renang bertaraf internasional, juga disediakan fasilitas biliar. Tiga tahun lalu, 1997, uang masuk di sekolah ini mencapai 20 juta dengan uang bulanan 850 ribu.

Pesantren Masih Menjadi Pilihan
Selain SMU ada juga pesantren-pesantren yang cukup baik. Antara lain; PP. Gontor-Ponorogo, PP. Al Amien, Prenduan (Madura), PP. Az Zaytun (Indramayu-Jabar) dan PP. Al Mukmien, Ngruki (Solo).
Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo (Jatim) adalah salah satu pondok pesantren yang berkembang pesat dengan 3.200 santri. Pondok yang santrinya dari seluruh Indonesia bahkan luar negeri, antara lain Somalia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Australia ini diasuh lebih 200 ustadz (guru), sebagian besar bergelar master luar negeri seperti Mesir, Arab Saudi, Pakistan. Begitu besarnya peminat, dari sekitar 2 ribu sampai 3 ribu pendaftar di Gontor pertahunnya, yang diterima cuma 750 anak saja.
Hampir mirip Gontor adalah Al Amien, Prenduan, Madura. Dua pesantren ini bahkan telah mendapat pengakuan (mu'adalah) dari sekolah luar negeri yang cukup terkemuka. Seperti; Jami'ah Islamiyah Madina Al Munawwarah, Jami'ah Malik Abdil Aziz Makkah, International Islamic University Islamabad Pakistan, Universitas Al-Zaytoun Tunisia dan Al Azhar (Kairo).

Perguruan Tinggi
Kemajuan sekolah-sekolah Islam ditandai juga dengan hadirnya beberapa perguruan tinggi Islam yang cukup berkualitas. Di Malang Jawa Timur ada Universitas Muhammadiyah Malang yang menempati tiga lokasi. Selain mewah, juga dilengkapi ruang perpustakaan, laboratorium komputer, jaringan internet (UMMNet), Masjid Ad Dakwah, laboratorium akuntansi, laboratorium perbankan, poliklinik sampai language center.
Di Jakarta ada Universitas Paramadina Mulya (UPM) yang dimotori cendekiawan muslim Nurcholish Madjid. Bersama Sudwikatmono dan beberapa pengusaha, Nurcholis mendirikan UPM. Universitas yang menempati gedung di tanah seluas 4,5 hektar di kawasan Kebun Jeruk, Jakarta Selatan dan menelan dana sebesar Rp 400 milyar.
Kini, universitas yang baru membuka program pasca sarjana (S2) program studi agama Islam ini bahkan telah menandatangani piagam kerjasama dengan Curtin University of Technology (CUT) di Perth, Australia Barat. (Cha)

Categories:

Kotak Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!