Friday, April 19, 2013



BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Reproduksi atau perkembangbiakan adalah proses dimana suatu organisme menghasilkan individu dari spesies yang sama. Perkembangbiakan pada orgnisme itu bertujuan agar organisme yang bersangkutan  dapat mempertahankan jenisnya. Sehingga bagi organisme, dengan bereproduksi maka hal tersebut merupakan cara agar keturunannya tidak mengalami kepunahan.
Cara bereproduksi pada organisme dapat dibagi menjadi dua yakni, reproduksi seksual atau generatif atau kawin dan reproduksi secara aseksual atau vegetatif atau tidak kawin. Hewan vertebrata umumnya bereproduksi secara generatif  atau secara kawin yang merupakan perkembangbiakan atau reproduksi yang terjadi apabila terbentuknya individu baru didahului dengan peristiwa peleburan sel-sel gamet atau fertilisasi dua sel haploid.
Proses pembentukan sperma dan telur (ovum) disebut gametogenesis, sehingga sel sperma dan sel telur (ovum) memiliki kemampuan untuk saling melebur dalam proses fertilisasi. Bila terjadi fertilisasi atau konsepsi atau coitus, maka satu oosit akan bergabung dengan satu spermatozoa menghasilkan satu sel baru yaitu zigot. Fertilisasi menandai dimulainya fase diploid pada hewan dan tumbuhan yang berkembangbiak secara seksual.
Fertilisasi pada berbagai jenis hewan vertebrata dibagi menjadi dua berdasarkan tempat terjadinya yakni fertilisasi internal dan fertilisasi eksternal. Fertilisasi internal adalah fertilisasi yang terjadi di dalam tubuh organisme yang melakukan kopulasi atau coitus dan fertilisasi eksternal adalah fertilisasi yang terjadi di luar tubuh organisme yang melakukan kopulasi atau coitus. Fertilisasi internal biasanya menghasilkan sel telur dalam jumlah yang terbatas atau jumlah sel telur (ovum) yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan jumlah sel telur (ovum) yang dihasilkan dari fertilisasi eksternal.
Pada Aves atau unggas proses fertilisasinya berlangsung secara internal. Proses ini mempertemukan kedua macam gamet dan sekaligus mempertahankan jumlah kromosom anakan tetap diploid seperti induknya. Pertemuan kedua macam gamet terjadi di saluran reproduksi hewan betina. Dalam hubungan ini gamet jantan (spermatozoa) dipindahkan ke dalam saluran reproduksi betina melalui proses kawin atau coitus untuk dapat bertemu dengan gamet betina (sel telur).
Pola dasar perkembangan embrio Aves sama dengan embrio Katak, yaitu melalui tahap, blastula, gastrula, neurula dan organogenesis. Pembelahan Aves merupakan pembelahan meroblastik, artinya pembelahan hanya berlangsung di keping lembaga saja. Dari hasil pembelahan diperoleh blastoderm sebanyak 3-4 lapisan sel. Blastula ayam memiliki epiblast, hipoblast, dan blastocoel. Epiblast bagian tengah yang lebih terang disebut area pelusida, bagian tepi yang lebih gelap adalah daerah opaka. Hipoblast meerupakan bakal lapisan ekstra embrio.
B. Tujuan
            Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
  1. Mempelajari tahap pembentukan organ pada berbagai umur embrio ayam
  2. Mempelajari lapisan embrional yang membentuk bakal organ.
C. Manfaat
            Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari praktikum ini adalah :
  1. Mahasiswa dapat mengetahui tahap-tahap proses perkembangan embrio ayam.
  2. Mahasiswa dapat membandingkan  bentuk-bentuk embrio ayam pada umur yang berbeda.







BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Gametogenesis berlangsung di dalam gonad yaitu testis dan ovarium. Gametogenesis adalah proses pembentukan gamet, yaitu sperma dan telur. Gametogenesis adalah suatu proses dimana bakal sel kelamin diubah menjadi sel kelamin yang sangat terspesialisasi sehingga memiliki kemampuan untuk berfusi pada saat fertilisasi, dan selanjutnya menghasilkan organisme baru (Adnan, 2008).    
Secara umum selaput telur dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu (i) selaput telur primer, (ii) selaput telur sekunder dan (iii) selpaut telur tertier. Selaput telur primer dihasilkan oleh oosit sendiri, misalnya zona radiate pada burung dan membran vitellin pada insekta,  moluska, amphibia, dan burung. Selaput telur primer biasanya melekat di dekat permukaan oosit pada ruang antara oosit dan sel folikel yang ditempati oleh mikrovili yang berinterdigitata (Adnan, 2008).
Menurut Adnan (2008), selaput telur yang paling kompleks ditemukan pada burung. Paling tidak ada lima selaput yang melingkupinya, yaitu:
1.      Membran vitellin, yaitu selaput yang sangat tipis yang menutupi permukaan kuning telur (yaitu, sel telur yang sebenarnya).
2.      Putih telur (albumin) sebagian besar berada dalam keadaan cair. Bagian yang lebih padat dari putih telur membentuk benang yang disebut khalaza. Khalaza berfungsi memelihara sel telur agar tetap berada di pusat putih telur.
3.      Selaput cangkang dalam, tersusun atas serat-serat keratin, melekat pada putih telur.
4.      Selaput cangkang luar, tesusun atas serat-serat keratin dan melekat pada cangkang telur.
5.      Cangkang, terutama tersusun atas CaCO3. Cangkang memiliki banyak pori-pori yang diisi oleh substansi berupa protein organik.
Menurut Yatim (1994), ada 3 macam selaput telur :
1.      Selaput Primer
2.      Selaput Sekunder
3.      Selaput Tersier
Selaput primer dihasilkan oleh telur sendiri, disebut oolema atau membran vitellin. Selaput sekunder dihasilkan oleh sel pemelihara telur (sel folikel) bersama telur sendiri. Selaput sekunder terletak di sebelah luar selaput primer. Pada Mamalia disebut zona pellucida. Pada Insecta dan Cyclostomata disebut chorion. Pada Amphibia, Reptilia dan Aves disebut zona radiata. Selaput tersier terbentuk setelah pembuahan. Dihasilkan oleh kelenjar saluran kelamin betina. Selaput lendir (jelly) pada Pisces dan Amphibia, serta lapisan albumen dan shell telur Reptilia, Aves, dan Monotremata adalah selaput tersier (Yatim, 1994).
Menurut Yatim (1994), Macam telur menurut susunan deutoplasma :
1.      Homolecithal
2.      Mediolecithal
3.      Megalecithal
4.      Centrolecithal.
Homolecithal, disebut juga oligolecithal atau isolecithal. Deutoplasma sedikit, tersebar rata diseluruh sitoplasma (ooplasma). Terdapat pada Amphioxus dan Metatheria dan Eutheria. Mediolecithal, berdeutoplasma sedang berupa lapisan di daerah kutub vagetal telur. Terdapat pada Amphibia. Megalecithal disebut juga telolecithal. Deutoplasmanya banyak sekali, membentuk lapisan yang hampir mengisi hampir semua telur; sedangkan inti dan sedikit sitoplasma menempati hanya daerah puncak kutub animal. Terdapat pada Pisces, Reptilia, Aves, dan Monotremata. Centrolecithal, deutoplasmanya relatif banyak dibandingkan dengan volume telur, tapi letaknya dibagian tengah. Sitoplasma berada sebelah luar. Terdapat pada Insecta (Yatim, 1994).
Menurut Kimball (1983), Tahapan dalam proses perkembangan mahluk dewasa adalah :
1.      Pembelahan (cleavage), selama tahapan perkembangan ini nukleus zigot menjalani serangkaian pembelahan mitotik. Nukleus anak yang dihasilkan biasanya dipisahkan dalam sel-sel yang terpisah yang berasal dari sitoplasma zigotnya. Selama tahapan ini tidak ada atau hanya sedikit pertumbuhan.
2.      Morfogenesis. Selama tahapan ini sejumlah sel-sel yang dihasilkan terus membelah diri, bergerak-gerak dan menata dirinya menjadi lapisan-lapisan dan kumpulan yang berbeda. Akibatnya terbentuklah pola tertentu. Perkembangan pola inilah yang disebut morfogenesis.
3.      Diferensiasi. Akan tetapi, tidak lama kemudian sel-sel embrio yang sedang berkembang itu mulai mengambil struktur dan fungsi khusus yang akan dipunyai pada saat menjadi dewasa. Sel-sel saraf, sel-sel otot, dan sebagainya terbentuk. Proses ini dinamakan diferensiasi. Sel-sel yang terdiferensiasi kemudian menjadi jaringan, jaringan menjadi organ, dan organ menjadi sistem.
4.      Pertumbuhan. Pertumbuhan terjadi bahkan setelah semua sistem tubuh organisme itu terbentuk. Organisme kemudian menjadi lebih besar karna berlanjutnya pembelahan sel atau karna pembesaran sel. Sementara suatu organisme melampaui tahapan-tahapan perkembangan pertama, maka dia disebut embrio. 
Vertebrata yang berpindah ke darat perlu penyelesaian atas permasalahan reproduksi  maka dievolusikan : sel telur bercangkang pada reptilia dan burung, dan uterus pada mamalia berplasenta. Di dalam cangkang atau uterus, embrio burung, reptilia dan mamalia dikelilingi oleh cairan yang berada di dalam kantung yang terbentuk oleh membran yang disebut amnion (Campbell, 2002).
Setelah fertilisasi, sel telur burung mengalami pembelahan meroblastik dimana pembelahan sel hanya terjadi dalam daerah kecil sitoplasma yang bebas kuning telur di atas massa besar kuning telur. Pembelahan awal menghasilkan tudung sel yang yang disebut blastodisk (blastodisc), yang berada diatas kuning telur yang tidak terbagi itu. Blastomer kemudian memisah menjadi dua lapisan, yaitu lapisan atas dan lapisan bawah atau epiblas dan hipoblas. Rongga diantara kedua lapisan ini disebut blastosel versi unggas (analog dengan blastosel vertebrata tanpa amnion), dan tahapan embrionik ini adalah ekuivalen blastula pada unggas, meskipun bentuknya berbeda dari bola berlubang pada embrio awal katak (Campbell, 2002).
Semua sel yang akan membentuk embrio berasal dari epiblas. Beberapa sel-sel epiblas yang lewat melalui primitive streak berpindah secara lateral ke dalam blastosel, dan menghasilkan mesoderm. Sel-sel epiblas lainnya, yang akan menghasilkan mesoderm, bermigrasi melalui strek tersebut ke arah bawah  dan bercampur dengan sel-sel hipoblas. Sel-sel epiblas yang masih tetap dipermukaan  akan menjadi ektoderm. Meskipun hipoblas tidak menyumbangkan sel apapun kepada embrio (Campbell, 2002).
            Pada umumnya ovum ayam betina setelah ovulasi mengalami fertilisasi membentuk zigot. Selanjutnya zigot mengalami proses pembelahan (cleavage) membentuk lapisan germinal yang terdiri dari ektoderm, mesoderm dan endoderm. Ketiga lapisan itu akan berkembang membentuk sistem organ berdasarkan lama inkubasi. Telur yang keluar dari kloaka kalau terjadi fertilisasi adalah dalam stadium diskoblastula yaitu 22 jam setelah ovulasi. Proses epiboli tidak ditemukan pada perkembangan awal telur ayam (Syahrum, 1994).
            Menurut Syahrum (1994) telur dapat dieramkan dengan 2 cara yaitu :
a.       Oleh induknya secara alami (secara alami)
b.      Dalam inkubator (secara buatan).
Menurut Anonim (2009), Pembelahan zigot membelah (mitosis) menjadi banyak blastomer. Blastomer berkumpul membentuk seperti buah arbei disebut Morula. Morula mempunyai 2 kutub, yaitu :
1.      kutub hewan (animal pole)
2.      kutub tumbuhan (vegetal pole)
Blastulasi sel-sel morula membelah dan "arbei" morula membentuk rongga (blastocoel) yang berisi air, disebut Blastula.







BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat
            Hari / Tanggal :  Kamis 26 Desember 2008
            Waktu             :  Pukul 16.00 – 17.30 WITA.
            Tempat            :  Laboratorium Biologi FMIPA UNM, Lantai II Barat
B. Alat dan Bahan
a.       Alat :                                
1.      Cawan petri
2.      Mikroskop
3.      Pinset
4.      Kertas saring                                                                 
b. Bahan :
1.      telur ayam yang berumur 24 jam
2.      telur ayam yang berumur 48 jam
3.      Telur ayam yang berumur 72 jam
C. Prosedur Kerja
  1. Menginkubasi 3 buah telur yang akan menjadi bahan praktikum.
  2. Mengatur inkubator untuk menginkubasi telur dengan waktu 24 jam, 48 jam dan 72 jam. Menunggu proses inkubasi telur selama tiga hari.
  3. Memecahkan telur ayam berumur 24 jam, 48 jam, dan 72 jam dan menempatkannya pada cawan petri.
  4. Mengamati bentuk embrio dari masing-masing telur ayam.
  5. Menggunakan kertas saring dan pinset untuk memisahkan embrio dari yolk dan albuminnya. Menempatkan embrio pada kaca objek dan menutupnya dengan kaca penutup.
  6. Mengamati embrio yang telah terpisah dari yolk dan albuminnya dengan menggunakan mikroskop.
  7. Menggambarkan hasil pengamatan yang diperoleh.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
1.      Embrio Stadium 24 jam inkubasi

 
                                                                                                Keterangan :
1.      Proamnion
2.      Fare gut
3.      Somit
4.      Area embrional
5.      Area pellusida
6.      Primitive streak
7.      Pulau darah

                            (Syahrum, 1994: 93)

                  (Adnan, 2008)















2.      Embrio Stadium 48 jam


 
                                                                                                Keterangan
1.      Mesensefalon
2.      Diesenfalon
3.      Ventrikel
4.      Tail bud
5.      Otic vesicle
6.      Rombencephalon 
                                    (Syahrum, 1994 : 102)


                           









                                    (Adnan, 2008)







3.      Embrio stadium 72 jam inkubasi
                                                                                                Keterangan :
1.            Tiroid
2.            Lung bud
3.            Stomach
4.            Amnion
5.            Korion


                           (Syahrum, 1994: 108)


                        (Syahrum, 1994: 108)











                                    (Adnan, 2008)
















B. Pembahasan
      1.   Embrio stadium 24 jam inkubasi
                        Setelah 24 jam inkubasi, pada telur terdapat bercak darah dan embrio masih sulit untuk diamati dengan mikroskop cahaya, sehingga perkembangan embrio pada stadium inkubasi 24 jam ini tidak dapat teramati. Disekitar embrio terdapat daerah yang warna kuningnya agak berbeda dengan warna kuning telur atau yolk yang mengelilingi embrio, sehingga membuat embrio seolah-olah berada di dalam sebuah lingkaran yang terletak di daerah kuning telur (yolk). Daerah inilah yang disebut dengan daerah ekstra embrio yang terdiri atas area pellusida dan area opaka. Khalaza tidak jelas terlihat. 
            Setelah inkubasi selama 24 jam, dapat dibedakan antara daerah intra embrional dengan daerah ekstra embrional. Daerah ekstra embrional terdiri dari area pelusida dan daerah opaka. Daerah kepala mengalami perkembangan agak cepat, namun karna adanya daerah batas pertumbuhan (zone of over growth), terjadi pelipatan kepala (head fold), mula-mula ke ventral kemudian daerah kepala agak terangkat dan melipat ke posterior. Pelipatan ini diikuti dengan pelipatan, terbentuklah kantong buntu sebelah anterior yang membuka ke arah kunir, disebut anterior intestinal portal. Kantong buntu disebelah anterior adalah fore gut (usus depan), sedangkan kesebelah posterior entoderm masih lurus sampai ke primitive streak. Celah disebelah ventral kepala akibat terjadinya lipatan kepala disebut         “ subcephalic pocket “. Lapisan tepi yang membatasi fore gut disebut “ margin of intestinal portal “ (Syahrum, 1994: 92).
            Sesuai dengan bertambah tuanya usia embrio, terjadilah penutupan neural fold secara bertahap mulai daerah diatas AIP ke arah anterior dan ke posterior. Dengan demikian terbentuklah tabung otak, namun dibagian paling anterior, neural fold tidak segera menutup, daerah ini dinamakan anterior neurope, bagian posterior neural fold sebagian besar masih belum menutup. Jumlah pasangan somit yang dibentuk oleh terjadinya segmentasi mesoderm dikiri kanan notokor ada ± 5 pasang . Somit disebut juga dorsal mesoderm yang akhirnya mengalami diferensiasi ke lateral menjadi intermediate mesoderm dan lateral mesoderm. Selanjutnya lateral mesoderm juga mengalami pemisahan, sebagian mendekati ektoderm, disebut somatic mesoderm dan sebagian mendekati entoderm disebut splanchnic mesoderm (Syahrum, 1994: 94).
            Dalam 24 jam inkubasi ternyata splanchnic mesoderm di daerah AIP mengalami penebalan yang nantinya akan berkembang menjadi buluh jantung, sedangkan di daerah opaka (area opaca) mesoderm berkelompok disebut “ blood island “ dan area opaka sekarang dinamakan “ area vasculosa “ (Syahrum, 1994: 94).
            Pembuluh darah merupakan derivat mesoderm. Di daerah ekstra embrional, pembuluh darah disusun oleh kelompok-kelompok meoderm yang disebut blood island dengan membentuk jaringan pembuluh darah halus kemudian bersatu akhirnya terbentuklah pembuluh balik ke badan embrio yaitu vena vitelina yang bermuara di dalam sinus venosus (setelah tabung jantung mengalami diferensiasi) (Syahrum, 1994: 94).
      2.   Embrio stadium 48 jam inkubasi        
            Pada stdium ini kepala embrio mengalami pelekukan (cephalis flexure) sehingga mesencephalon tampak disebelah dorsal, sedangkan prosencephalon dan rhombencephalon tampak sejajar. Badan embrio memutar sepanjang sumbunya sehingga bagian kiri menjadi diatas kunir sedangkan pandangan dorsal tampak kepala bagian kanan; badan bagian posterior masih menunjukkan bagian dorsal. Bagian badan sebelah tengah menunjukkan adanya lipatan lateral sedangkan di daerah ekor telah terjadi pula tail fold (lipatan yang menyelubungi daerah ekor). Lama-kelamaan seluruh badan embrio berada dalam selubung amnion, setelah semua lipatan-lipatan bertemu (Syahrum, 1994: 100).
            Prosencephalon berkembang menjadi telencephalon dan diencephalo, mesencephalon tetap sedangkan rhombencephalon menjadi meten dan myencephalon. Metencephalon dengan atap tebal sedangkan myencephalon dengan atap tipis, korda spinalis telah menutup, sinus rhombodialis menghilang. Setiap lens placode mengalami invaginasi membentuk lens vesicle dan dinding optic vesicle mengalami invaginasi membentuk optic cup (Syahrum, 1994: 101).
            Di daerah faring (usus depan) telah terbentuk 3 pasang kantong faring yang merupakan evaginasi lateral, sedangkan sejajar kantong faring ke II terdapat evaginasi ventral membentuk kelenjar tiroid. Didepan phryngeal membrane yang dibentuk oleh stomodeum terjadi pula lekukan membentuk kantong Rathke yang nantinya akan menjadi hipofise bagian anterior. Dekat daerah AIP (depan mid gut) faring juga mengadakan evaginasi ke ventral membentuk liver bud yaitu primordia hepar, sedangkan dibagian posterior, usus belakang mengadakan evaginasi ventral membentuk allantois, merupakan organ ekskresi selama embrio berkembang (Syahrum, 1994: 102).
            Tabung jantung telah melekuk dan memutar membentuk huruf S. Jantung terdiri dari: sinus venosus, atrium, ventrikel, bulbus dan ventral aorta. Dengan demikian pada stadium ini telah terjadi sirkulasi darah dalam embrio. Jantung berdenyut pada ± 43 jam inkubasi. Ventral aorta bercabang membentuk 3 pasang arkus aorta, kemudian ketiga pasang arkus aorta tersebut bermuara kedalam dorsal aorta (Syahrum, 1994: 104).
            Pembentukan somit semakin panjang ke arah posterior yang selanjutnya berdiferensiasi menjadi sklerotom, myotom, dan dermatom. Pada akhir perkembangan embrio 48 jam inkubasi terbentuk dua membran ekstra embrional  yaitu, amnion membran berbentuk kantong berisi cairan yang langsung membungkus badan embrio; yang kedua adalah khorion, membran yang membungkus embrio dan semua struktur ekstra embrional (amnion, yolk sac, dan allantois). Perkembangan berasal dari somatopleura ekstra embrional yang melakukan lipatan sirkuler mengelilingi badan embrio. Proses terbentuknya lipatan tersebut, mula-mula terjadi di daerah anterior (head fold), kemudian daerah lateral (lateral body fold), dan akhirnya di daerah posterior (sejalan dengan pembentukan tail bud dan tail fold). Pelipatan di daerah ekor diikuti dengan melipatnya entoderm membentuk usus belakang (hind gut) yang selanjutnya membentuk evaginasi ventral menjadi allantois yang berfungsi sebagai organ ekskresi selama embrio berkembang (Syahrum, 1994: 104).
      3.   Stadium embrio 72 jam inkubasi
            Embrio mengalami pelekukan servikal sehingga daerah rhombencephalon berada di sebelah dorsal dan telencephalon mendekati perkembangan jantung. Di daerah setinggi AIP terjadi penebalan mesoderm yang akan berkembang menjadi upper limb bud, atau wing bud, merupakan primordia sayap. Sedangkan di daerah kauda dibentuk lower limb bud yaitu primordia kaki. Telencephalon mengalami penggembungan menjadi hemisphere cerebri. Atap diencephalon mengalami evaginasi membentuk mepifise, sedangkan diencephalon mengalami evaginasi membentuk infudibulum yang nantinya berkembang menjadi hipofise pars posterior (Syahrum, 1994: 106)
            Menurut Syahrum (1994: 106), rongga tabung otak terdiri dari :
1.      Ventrikel lateral di daerah hemisphere cerebri berisi cairan otak
2.      Ventrikel 3 pada diencephalon
3.      Aquaduct pada serebri rongga dalam mesencephalon
4.      Ventrikel 4 pada rhombencephalon, dan terakhir kanalis sentralis pada korda spinalis.
            Olfactory pit, merupakan invaginasi ektoderm kepala daerah telencephalon. Optik stalk setelah dibentuknya optic cup dan chorioid fissure. Invaginasi ektoderm kepala di depan optic cup akan membentuk lensa dan setelah terlepasnya kantong lensa ektoderm tersebut akan menutup kembali dan membentuk kornea. Pada daerah lateral myencephalon dibentuk otosis, juga merupakan invaginasi head ectoderm yang akhirnya melepaskan diri membentuk suatu kantung, dan mengalami evaginasi median membentuk duktus endolimfatikus, bersama dengan otosis akan membentuk telinga bagian dalam (Syahrum, 1994: 106).
            Ada penambahan 3 kantong faring terhadap 3 pasang yang telah ada sebelumnya. Dua pasang yang pertama menunjukkan adanya sobekan pada sebagian closing plate. Selanjutnya evaginasi ventral usus depan berikutnya membentuk primordia hepar kranial. Esophagus merupakan tabung yang pendek, terletak disebelah belakang primordia paru-paru. Esohagus menuju ke lambung yang agak melebar, lalu menyempit menjadi duodenum yang pendek memberi kesempatan bertumbuhnya primordia hepar. Kemudian usus depan membuka dinding dorsal setinggi divertikulum hepar bagian kaudal dan terjadi penebalan yang akan membentuk primordia dorsal pankreas. Usus belakang mengalami divertikulum ventral membentuk kantong allantois. Tepat disebelah kaudal allantois ektoderm dan entoderm bersatu membentuk membran kloaka yang kalau pecah akan membentuk anus (Syahrum, 1994: 107).
             



















BAB V
Sel Telur Mencit                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
 
PENUTUP

A. Kesimpulan                                        
            Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh pada praktikum ini adalah :
1.       Pada embrio ayam pada stadium inkubasi selama 24 jam daerah ekstra embrional dan intra embrional dapat dibedakan, dimana daerah ekstra embrional terdiri atas area pelusida dan area opaka, terjadi perkembangan disekitar bagian kepala dan terjadi penebalan Splanchnic mesoderm yang akan berkembang menjadi pembuluh darah, pada embrio stadium inkubasi 48 jam terjadi perkembangan pada susunan saraf, saluran pencernaan, perkembangan jantung dan pembuluh darah, diferensiasi mesoderm, dan terbentuk dua membran ekstra embrional yakni amnion dan khorion, sedangkan pada embrio stadium inkubasi 72 jam telah mengalami perkembangan pada pembentukan sayap dan kaki perkembangan otak, peekembangan menuju pembentukan organ indra, sistem pencernaan dan sistem respirasi.
2. Lapisan embrional yang membentuk bakal organ terdiri atas tiga yakni:
a.             Ektoderm : epidermis, kulit dan turunannya, kornea dan lensa mata, sistem saraf, reseptor indera pada epidermis, medula adrenal, dan rektum.
b.            Mesoderm : notokord, sistem rangka, sistem otot, sistem sirkulasi, ekskresi, dermis kulit, sistem reproduksi kecuali sel-sel germinal, loimfatik, dan korteks adrenal.
c.             Endoderm : Endotelium, hati, lapisan uretra, dan sistem reproduksi.

B. Saran
            Diharapkan kepada semua praktikan agar dapat aktif dalam pelaksanaan praktikum sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal, sesuai dengan yang diharapkan.


DAFTAR PUSTAKA

Adnan. 2008. Reproduksi dan Embriologi. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.
Anonim. 2009. Pertumbuhan pada Hewan. www.vlsmfree.com. Diakses tanggal 20 Desember 2008
Campbell. 1999. Biologi. Jakarta: Erlangga
Kimball, JohnW. 1983. Biologi Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Syahrun, Moh. Hatta. 1994. Reproduksi dan Embriologi. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Yatim, Wildan. 1994. Reproduksi dan Embryologi. Bandung: Tarsito Bandung







             













JAWABAN PERTANYAAN
1. Tempat penyimpanan sperma sebelum dikeluarkan dari tubuh hewan :
            a. katak     : Testis
            b. Merpati : testis
            c. Mencit   : epididimis dan vas deferens
2. Gambar spermatozoa pada mamalia :





                        Keterangan :
1.      Galea kapitis
2.      Mitokondria
3.      Filamen aksial
4.      Sentriol bentuk cicncin
5.      Sikat
6.      Ujung ekor
7.      Ekor
8.      Leher
9.      Kepala
3. Susunan folikel telur merpati :
            a. Yolk, sebagai makanan cadangan bagi embrio
            b. Chalaza, sebagai pelindung embrio dari guncangan
            c. albumin, sebagai cadangan makanan
            d. Cangkang, sebagai pelindung dari perubahan lingkungan di luar telur
            Susunan membran telur pada mencit :
a.       Membran Vitellin dan oolema, sebagai pelindung telur sebelum dibuahi.
b.      Yolk, sebagai makanan cadangan sel telur sebelum dibuahi.
c.       Sitoplasma, sebagai tempat mengapungnya berbagai organel sel.
4. Sel telur saat diovulasikan :
Sel telur yang dihasilkan belum memiliki membran pelindung yang berupa selaput dan cangkang yang dibuat dari zat kapur. Sel telur pada saat diovosisikan, sudah terbentuk cangkang dan membrannya.





























Categories:

Kotak Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!