Friday, April 19, 2013



BAB  I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Semua makhluk hidup memerlukan energi. Energi itu digunakan untuk tumbuh, bergerak, mencari makanan, mengeluarkan sisa-sisa makanan, menanggapi rangsangan, dan reproduksi. Tanpa energi semua proses kehidupan akan terhenti. Darimana energi diperoleh?
Sumber energi utama bagi makhluk hidup di bumi adalah matahari. Energi matahari ditangkap tumbuhan dan diubah menjadi persenyawaan kimia. Selanjutnya energi kimia yang tersimpan dalam tumbuhan berpindah kemakhluk hidup lain pada saat tumbuhan dimakan oleh makhluk hidup tersebut. Di dalam tubuh makhluk hidup terjadi perombakan persenyawaan kimia untuk berbagai keperluan hidupnya. Proses ini dikenal dengan metabolisme.
Metabolisme dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu reaksi penyusunan (anabolisme) dan reaksi penguraian (katabolisme). Salah satu contoh dari metabolisme adalah respirasi. Respirasi adalah proses pengikatan oksigen (O2) dan pelepasan karbondioksida (CO2) untuk menguraikan bahan makanan untuk menghasilkan energi. Respirasi dilakukan oleh semua sel penyusun tubuh, baik sel-sel tumbuhan maupun sel hewan dan manusia. Respirasi dilakukan baik siang maupun malam.
Kebutuhan oksigen untuk melakukan respirasi setiap makhluk hidup berbeda-beda tergantung dari jenis dan ukuran berat tubuh makhluk hidup tersebut. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh jenis dan berat tubuh makhluk hidup terhadap kebutuhan oksigennya, maka pada kesempatan ini kami melakukan percobaan dengan judul respirasi.
B.     Tujuan
1.      Membuktikan bahwa organisme hidup membutuhkan oksigen untuk respirasinya.
2.      Membandingkan kebutuhan oksigen beberapa organisme menurut jenis dan ukuran berat tubuhnya.
C.    Manfaat
Adapun manfaat dari percobaan ini adalah kita dapat mengetahui kebutuhan oksigen suatu organisme untuk melakukan respirasi serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan oksigen untuk melakukan respirasi.

BAB  II
TINJAUAN PUSTAKA


Respirasi atau pernafasan adalah pembebasan energi dari sari-sari makanan di dalam sel-sel tubuh. Pembebasan energi tersebut melalui proses oksidasi biologi, yaitu suatu reaksi kimia antara sari-sari makanan dengan oksigen, energi yang dibebasjkan digunakan untuk peoses hidup lainnya seperti sintesis protein dan pertumbuhan (Jenice, 2003).
Proses oksidasi selain membebaskan energi juga akan menghasilkan karbondioksida dan air. Karbondioksida dan air merupakan zat-zat sisa yang harus dikeluarkan dari dakam tubuh. Oksigen dan sari-sari makanan masuk ke dalam sel-sel tubuh kemudian terjadilah proses oksidasi (pembakaran) yang membebaskan energi   dan menghasilkan karbondioksida (CO2) serta air (H2O) (Goldsten, 2004).
Respirasi terjadi di dalam sel setiap sel hidup dan berlangsung dengan berbagai cara. Setiap tahap dalam respirasi melibatkan enzim dan pada beberapa tahap terjadi pembebasan energi. Enzim merupakan substansi organik yang dihasilkan oleh sel dan dalam respirasi berfungsi sebagai katalisator (mempercepat reaksi) kimia yang berlangsung pada tubuh organisme. Energi yang terjadi dalam proses respirasi tersebut dipindahkan ke molekul lain dan dapat digunakan untuk reaksi-reaksi yang lain. Respirasi yang terjadi di dalam sel dikenal dengan nama respirasi jaringan. Respirasi ini tergantung pada pertukaran gas antara organisme dengan lingkungannya. Sepertihalnya manusia dan hewan, tumbuhan juga bernafas. Tumbuhan bernafas sama halnya dengan manusia dan hewan yaitu menghirup oksigen (O2) dan melepaskan karbondioksida (CO2) serta air (H2O). Pada tumbuhan hijau proses fotosintesis hanya terjadi pada pagi hari dan siang hari. Karena proses fotosintesis memerlukan cahaya matahari, sehingga pada siang hari lebih aktif melakukan fotosintesis dari pada pernafasan (Ali, 2005)
Menurut Jenice (2003), jika ditinjau dari ada tidaknya oksigen yang dibutuhkan proses respirasi terbagi atas dua, yaitu :
1.      Respirasi aerob (respirasi intraseluler)
Respirasi aerob adalah suatu proses pernafasan yang memerlukan oksigen. Pernafasan ini berlangsung pada mitokondria. Apabila substrat yang dioksidasi berupa glukosa, maka persamaan reaksi kimianya adalah :
C6H12O6 + 6 O2                            6 CO2 + 6 H2O  +  Energi
Adapun energi yang dihasilkan dalam reaksi kimia di atas sebesar 675 kalori. Dari reaksi di atas tampak jelas bahwa dalam pernafasan akan dihasilkan gas CO2 dan H2O serta energi.
2.      Respirasi anaerob (respirasi intramolekuler)
Respirasi anaerob adalah proses pernafasan yang tidak memerlukan oksigen. Pernafasan ini terjadi pada sel yang tidak berhubungan dengan udara. Makhluk hidup yang melakukan respirasi anaerob dibagi menjadi dua yaitu :
a.       Anaerob obligat adalah makhluk hidup yang hanya dapat hidup tanpa adanya oksigen.
b.      Anaerob fakultatif yaitu organisme yang pada dasarnya aerob, akan tetapi dapat juga bersifat anaerob. Artinya, jika terdapat oksigen bebas maka organisme tersebut menggunakan oksigen untuk memenuhi kebutuhan energinya, akan tetapi jika tidak ada oksigen organisme ini akan menguraikan senyawa lain untuk memenuhi kebutuhan energinya.
Respirasi anaerob adalah proses penguraian glukosa untuk menghasilkan tenaga tanpa menggunakan oksigen. Organisme tingkat rendah seperti bakteri, ulat, hewan dan tumbuhan menjalankan proses ini. Proses ini menghasilkan sedikit tenaga. Secara umum terdapat sedikit perbedaan antara respirasi dan fotosintesis oleh tumbuhan (Anonim, 2007).
Pernafasan anaerob terjadi pada tumbuhan tingkat rendah seperti bakteri dan jamur. Dibandingkan dengan pernafasan aerob, respirasi anaerob sangat merugikan tumbuhan karena hal-hal sebagai berikut :
1.      Dalam jumlah satuan zat yang sama akan diperoleh energi yang lebih rendah. Misalnya pada pernafasan aerob dihasilkan 675 kalori sedangkan pada respirasi anaerob dihasilkan 28 kalori.
2.      Sering dihasilkan senyawa sampingan yang menjadi toksin bagi organisme tersebut.
Persamaan reaksi kimia pernafasan ini dapat dituliskan seperti :
C6H12O6                            2 C2HOH  +  2 CO2  +  28 Kal
Pada pernafasan aerob jumlah CO2 yang dihasilkan dan jumlah O2 yang digunakan dalam respirasi tidak selalu sama. Hal ini tergantung pada jenis bahan yang digunakan. Perbandingan antara jumlah CO2 yang dilepaskan dan jumlah O2 yang dibutuhkan disebut Respiratory Quotient (RQ). Nilai RQ ini dapat berfariasi tergantung pada bahan untuk respirasi, sempurna tidaknya respirasi, dan kondisi-kondisi lainnya seperti suhu (Goldsten, 2004).
























BAB  III
METODE PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini :
Hari/tanggal        : Jumat, 28 Desember 2007
Waktu                 : Pukul 13.10 – 14.50 WITA
Tempat                : Laboratorium Biologi lantai III Barat FMIPA UNM.
B.     Alat dan Bahan
1.      Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
1.      Dua set respirometer simple
2.      Spoit
3.      Stopwatch / Jam tangan
4.      Neraca
2.      Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu:
a.       Kapas
b.      Vaselinss
c.       KOH kristal
d.      Larutan eosin
e.       Kecambah kacan hijau (Phaseolus sp.)
f.       2 ekor belalang (Dissosteria carolina) dan 1 ekor kecoa (Blatta orientalis)                                         
                                                                             
C.    Prosedur Kerja
a.      Percobaan I
1.      Mengambil 1 ekor belalang dan 1 ekor kecoa dengan ukuran berat tubuh yang sama.
2.      Memasukkan belalang ke dalam tabung respirometer A dan kecoa ke dalam tabung respirometer B.
3.      Membungkus dengan kapas tipis 2 butir kristal KOH, kemudian memasukkannya ke dalam di leher tabung respirometer.
4.      Menutup tabung respirometer dengan penutupnya yang berhubungan dengan kaca berskala, kemudian meletakkannya pada sandarannya.
5.      Mengolesi dengan vaselin sambungan tabung respirometer dengan penutupnya untuk mencegah kebocoran.
6.      Menetesi larutan eosin pada ujung pipa berskala sampai ada yang masuk ke dalam salurannya.
7.      Mengamati pergeseran eosin sepanjang saluran pipa kaca berskala, kemudian memcatat jarak pergeseran eosin mulai dari skala 0,0 setiap 1 menit.
8.      Melakukan pengamatan sampai eosin tiba pada skala 1,0 atau eosin tidak bergerak lagi.
b.      Percobaan II
1.      Membersihkan respirometer simple yang telah digunakan.
2.      Dengan tata urutan kerja yang sama pada percobaan I, melakukan percobaan II dengan menggunakan belalang dengan ukuran berat tubuh yang berbeda.
c.       Percobaan III
1.      Membersihkan respirometer simple yang telah digunakan.
2.      Dengan tata urutan kerja yang sama pada percobaan I, melakukan percobaan III dengan menggunakan kecambah kacang hijau dan kacang hijau dengan berat yang sama.

BAB  IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan
Tabel hasil pengamatan percobaan I
1. Organisme sama dengan berat yang berbeda
Bahan I : Belalang besar ( 2,68 gram)      Bahan II : Belalang kecil ( 1,33 gram )
No
Menit Ke-
Skala
No
Menit Ke-
Skala
1
1
0
1
1
0,1
2
2
0,1
2
2
0,15
3
3
0,1
3
3
0,2
4
4
0,15
4
4
0,2
5
5
0,2
5
5
0,3

2. Organisme dengan berat sama / hampir sama
Bahan III : Belalang ( 2,6gram)        Bahan IV : Kecoa  ( 3,09 gram )
No
Menit Ke-
Skala
No
Menit Ke-
Skala
1
1
1,0
1
1
0,19
2
2

2
2
0,34
3
3

3
3
0, 56
4
4

4
4
0,62
5
5

5
5
0,73




3. Kecambah yang beratnya hampir sama / sama
Bahan V : Kecambah Kacang Hijau (10,02 gram )/dikuliti
No
Menit Ke-
Skala
1
1
0,15
2
2
0,25
3
3
0,39
4
4
0,53
5
5
0,66
Bahan VI : Kacang Hijau (10,08 gram)
No
Menit Ke-
Skala
1
1
0,15
2
2
0,32
3
3
0,54
4
4
0,75
5
5
1,00

B.     Analisis Percobaan
1.      Percobaan I
Kecepatan respirasi untuk belalang (0,37 gram)
t2  = 2 menit                s2 = 1.00 skala
Kecepatan respirasi untuk kecoa (0,14 gram)
t5  =  5 menit               s5 = 0,44 skala
2.      Percobaan II
Kecepatan respirasi untuk kecoa besar (5 gram)
t5  =  5 menit               s5 = 0,2 skala
Kecepatan respirasi untuk kecoa kecil (1,33 gram)
takhir  =  5 menit                        sakhir = 0,3 skala
3.      Percobaan III
Kecepatan respirasi untuk kecambah kacang hijau (10,02 gram)/ dikuliti
takhir  =  5 menit                        sakhir = 0,66 skala
Kecepatan respirasi untuk kacang hijau (10,08 gram)
takhir  =  5menit             sakhir = 1,00 skala

C.    Pembahasan
Pada percobaan I (tabel hasil pengamatan percobaan I) yaitu dengan spesies yang berbeda dan berat yang sama, antara belalang dan kecoa dengan selang waktu dua menit didapatkan bahwa kecepatan bernafas belalang lebih cepat dimana kecepatannya adalah . Sedangkan kecepatan bernafas kecoa lebih lambat karena kecepatan bernafasnya hanya 0,146 skala/menit. Hal ini menunjukkan bahwa setiap organisme memerlukan jumlah oksigen yang berbeda untuk melakukan respirasi. Banyak atau sedikitnya oksigen yang dibutuhkan akan mempengaruhi kecepatan respirasinya.
 Pada percobaan II (tabel hasil pengamatan percobaan II) yaitu dengan spesies yang sama namun berat tubuh yang berbeda, antara belalang yang berukuran besar dengan berat 2,68 gram dengan belalang yang berukuran kecil dengan berat 1,33 gram. Dari hasil pengamatan diperoleh bahwa kecepatan bernafas belalang yang berukuran besar adalah . Sedangkan belalang yang berukuran kecil mempunyai kecepatan bernafas sebesar . Hal ini menunjukkan bahwa walaupun suatu organisme jenisnya sama namun jika ukuran tubuhnya berbeda maka kebutuhan oksigennya untuk melakukan respirasi pun berbeda. Hal ini pun sesuai dengan teori, yang mengatakan bahwa semakin besar atau semakin berat tubuh suatu organisme maka kebutuhan oksigennya pun lebih banyak.
Pada percobaan III (tabel hasil pengamatan percobaan III) yaitu dengan jenis tumbuhan dan berat yang sama namun dengan jaringan tubuh yang berbeda, antara kecambah kacang hijau yang telah dkuliti dngan yang tidak dikuliti.Dari hasil pengamatan diperoleh bahwa kecepatan respirasi kecambah kacang hijau yang telah dikulti lebih cepat dimana kecepatannya adalah . Sedangkan untuk kacang hijau yang tidak dikuliti kecepatan respirasinya hanya . Hal ini menunjukkan bahwa walaupun tumbuhan tersebut berjenis dan berat sama namun jika jaringan tubuhnya berbeda maka kebutuhan oksigen untuk melakukan respirasi juga berbeda. Ini dikarenakan pada kecambah kacang hijau telah tumbuh jaringan kehidupan berupa tunas.

BAB  V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari bisa ditarik dari percobaan ini adalah :
1.      Setiap makhluk membutuhkan oksigen dalam melakukan proses respirasi.
2.      Banyaknya oksigen yang dibutuhkan suatu organisme untuk melakukan respirasi dipengaruhi oleh jenis dan ukuran berat tubuhnya.
B.     Saran
1.      Agar dalam melakukan percobaan setiap alat-alat yang digunakan harus bersih dari zat-zat kimia. Agar dalam melakukan percobaan tidak mengalami kegagalan.
2.      Agar asisten terus mendampingi para praktikan selama praktikum berlangsung.


DAFTAR PUSTAKA



Ali, A., dan Yusmina H. 2005. Penuntun Praktikulum Mikrobiologi Dasar. Jurusan Biologi FMIPA UNM. Makassar.

Anonim. 2007. Respirasi Anaerob. http://www.forumsains.com/. Diakses tanggal 10 Desember 2007.

Goldsten, Philip. 2004. Ilmu Pengetahuan Populer Jilid 10 Edisi 11. PT Ikrar Mandiri Abadi. Jakarta.

Janice, D.L. 2003. Biologi Tesis. Erlangga. Jakarata.

Tim Pengajar. 2007. Penuntun Praktikum Biologi Umum. Jurusan Biologi FMIPA UNM. Makassar.

Jawaban Pertanyaan
1.      Fungsi KOH yaitu untuk mengikat karbondioksida (CO2) yang dikeluarkan oleh hewan dan tumbuhan yang ada pada tabung respirometer.
Larutan eosin yang diteteskan pada pipa kaca berskala bergerak karena organisme yang ada pada tabung tersebut melakukan proses respirasi sehingga menyebabkan volume oksigen yang berada dalam tabung respirometer berkurang sehingga menyebabkan udara yang berada pada pipa kaca berskala terisap masuk ke dalam tabung sehingga larutan eosin yang berada pada pipa kaca berskala juga ikut terisap sehingga larutan tersebut bergerak.
Categories:

Kotak Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!